Kebalian Cerpen Indonesia.

Oktober 21, 2007

Bali Post, 21 Oktober 2007

Lewat buku ini pembaca diajak untuk melihat potret mini Bali yang terus berproses.

Inilah Kebalian Cerpen Indonesia

Judul : Penari Sanghyang
Pengarang : Mas Ruscitadewi
Penerbit : Arti Foundation Denpasar,
2007
Tebal : 100 halaman

Baca entri selengkapnya »

Cahaya Sunyi Ibu

Oktober 21, 2007

Cerpen Triyanto Triwikromo
Jawa Pos, Minggu, 21 Okt 2007,

Badak Tak Berbedak
JANGAN sekali-kali kaubuat Ibu kesepian, Ros. Kesepian, mungkin kau tidak pernah tahu, mirip krematorium. Panas, gelap, berdinding tembok dingin kelabu, dan sangat pengap. Di panti wreda, saat aku melayat Caroline, Ibu mengamuk hanya gara-gara aku tak bergegas membawa sahabatnya yang kerap bercerita tentang keindahan kepak burung seagull di Pantai Santa Monica atau Redondo itu, ke rumah sakit terbaik di Los Angeles. Baca entri selengkapnya »

Rindu Ibu pada Bumi

Oktober 21, 2007

Cerpen: Ida Ahdiah
Suara Karya, Sabtu, 20 Oktober 2007

Di awal musim gugur itu Ibu duduk di tepi jendela, menyaksikan daun-daun lepas dari tangkainya. Daun-daun yang telah berubah warnanya, kuning, merah, dan tembaga itu mendarat di atas rumput yang mengkerut kedinginan. Bumi telah kehabisan kehangatannya. Sebentar lagi pohon-pohon itu kesepian, ditinggalkan daun-daun. Angin yang menderu-deru bersekutu dengan angkasa yang buram, tak bercahaya.

Kulihat dua titik air bening di kedua sudut mata Ibu. “Apakah Ibu tidak bahagia?” Tanyaku. Baca entri selengkapnya »

Tamu Istimewa di Hari Lebaran

Oktober 21, 2007

Suara Pembaruan
Oleh Fathor Lt

Pagi yang tak pernah hadir dalam mimpi-mimpiku semenjak perceraian yang tidak kita inginkan terjadi. Tiba-tiba saja pagi hadir membawamu beserta setumpuk kenangan yang lama telah terkubur.

Tidak harus hidupku selalu berdampingan dengan orang-orang yang aku sayangi. Kesendirian pun bisa mengajariku tentang banyak hal, termasuk ego yang selalu menguasaiku. Baca entri selengkapnya »

Siit Uncuwing

Oktober 21, 2007

Kompas Minggu, 21 Oktober 2007
oleh RIEKE DIAH PITALOKA

Setiap pagi, bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari.

Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi, sungai-sungai keperakan, berkerlip menyilaukan. Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Ada jembatan di atasnya, jalan raya tepatnya. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Dulu, setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki, dua setengah kilometer dari rumah. Sangat pagi. Waktu membuka pintu, kabut berebut kecup pipi mereka. Satu dua kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Embun basahi sepatu sekolah. Baca entri selengkapnya »

Atheis

Oktober 20, 2007

Catatan Pinggir

Majalah Tempo Edisi. 23/XXXIIIIII/30 Juli – 05 Agustus 2007

Agama akan tetap bertahan dalam hidup manusia, tapi layakkah ia dibela?

Christopher Hitchens baru-baru ini menarik perhatian ketika bukunya terbit dengan judul God Is Not Great: Religion Poisons Everything. Penulis Inggris ini—yang yakin bahwa Tuhan tidak akbar dan bahwa agama adalah racun—tak bersuara sendirian di awal abad ke-21 ini. Di tahun 2004 terbit The End of Faith, oleh Sam Harris, yang tahun lalu mempertegas posisinya dengan menyerang agama Kristen dalam Letter to a Christian Nation. Yang juga terkenal adalah karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi, The God Delusion, yang mengutip satu kalimat pengarang lain: ”Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut
gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.” Baca entri selengkapnya »

Seks, Sastra, dan Sastra Arab

Oktober 20, 2007

Ulil Abshar Abdalla

ACI – Kenapa banyak orang takut pada seks? Mungkin Goenawan Mohamad perlu menerbitkan kembali esei lamanya tentang kedudukan seks dalam sastra kita sehubungan dengan pergerakan waktu dan perbincangan saat ini.

Saya bisa memahami “histeria” sebagian masyarakat Amerika setelah menonton “The Inconvenient Truth”, buah gagasan Al Gore itu. Tapi saya tak bisa memahami kenapa orang- orang harus histeris terhadap seks, erotisme, dan tubuh perempuan (juga, tentu, laki-laki). Baca entri selengkapnya »

Stigmatisasi Sastra Indonesia

Oktober 20, 2007

Stigmatisasi sastra Indonesia menjadi “sastra kelamin”, “sastra imperialis”, “sastra kontekstual”, “sastra pedalaman”, “sastra Islami”, “sastra kiri”, “sastra pop” dan lain sebagainya, perlukah? Pertanyaan ini agaknya cukup penting untuk didiskusikan karena faktanya tidak membuat sastra Indonesia lebih akrab dengan masyarakat Indonesia. Mungkin saja pihak-pihak yang melakukan stigmatisasi sastra Indonesia berkepentingan positif. Misalnya, ingin membuat sastra Indonesia lebih akrab dengan kelompok masyarakat tertentu. Kepentingan demikian mungkin menyembunyikan tujuan tertentu, seperti ingin mengajak kelompok tertentu bersedia memberikan apresiasi terhadap sastra secara lebih proporsional. Atau,ada tujuan lain seperti ingin menempatkan sastra
Indonesia (yang telah mengalami stigmatisasi) tidak lagi terasing dari kelompok masyarakat mana pun karena faktanya yang disebut sebagai masyarakat Indonesia juga telah mengalami stigmatisasi-stigmatisasi. Tujuan ini bisa juga dikaitkan dengan keinginan untuk membangkitkan minat kelompok masyarakat tertentu terhadap sastra. Jika stigmatisasi sastra Indonesia
memang bertujuan seperti yang terpapar di atas,hal itu layak dihargai.Misalnya,jika sastra Indonesia sudah diberi stigma sebagai “sastra Islami”,kemudian kaum muslim ramai-ramai mengapresiasi dan juga ramai-ramai memproduksi karya sastra sehingga pada akhirnya tidak ada lagi fenomena keterasingan sastra di tengah masyarakat kita sebagaimana yang selama ini berlangsung. Baca entri selengkapnya »

URGEN

Oktober 19, 2007

Oleh Alfons Taryadi

Dari tumpukan surat di meja saya, biasanya surat yang bagian depan sampulnya bertanda kata urgen saya buka paling dahulu. Sebab, bukankah urgen berarti mendesak dan penting? Dalam Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, Jus Badudu (2003) mengartikan urgen – “sangat penting dan sangat mendesak sehingga diperlukan tindakan segera atau pelaksanaannya”. Baca entri selengkapnya »

RUANG PUBLIK INDUSTRI SASTRA

Oktober 19, 2007

Sebuah perjuangan penulis gelandangan untuk dapat menjumpai ruang publik sastra di media cetak adalah usaha untuk merobohkan dominasi penguasa sastra yang telah terlilit oleh sebuah mekanisme Industri. Ruang publik sastra di media cetak seperti sebuah jalan tol publikasi karya sastrawan mapan. Semakin kesulitan membedakan mana yang menjadi korban dan mana yang mengorbankan. Sastrawan yang telah mapan merasa setiap muntahan penanya selalu ada daya tampungnya. Kualitas sastra telah menjadi industri yang saling melengkapi dan saling menunggangi dalam kepentingannya masing-masing. Baca entri selengkapnya »