<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kesusastraan MINGGUAN INDONESIA</title>
	<atom:link href="http://kesusastraan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kesusastraan.wordpress.com</link>
	<description>Pers Praktis untuk Keagungan Bangsa Kepulauan Nusantara</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Oct 2007 04:59:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='kesusastraan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kesusastraan MINGGUAN INDONESIA</title>
		<link>http://kesusastraan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://kesusastraan.wordpress.com/osd.xml" title="Kesusastraan MINGGUAN INDONESIA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://kesusastraan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kebalian Cerpen Indonesia.</title>
		<link>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/kebalian-cerpen-indonesia/</link>
		<comments>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/kebalian-cerpen-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2007 04:59:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/kebalian-cerpen-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Bali Post, 21 Oktober 2007 Lewat buku ini pembaca diajak untuk melihat potret mini Bali yang terus berproses. Inilah Kebalian Cerpen Indonesia Judul : Penari Sanghyang Pengarang : Mas Ruscitadewi Penerbit : Arti Foundation Denpasar, 2007 Tebal : 100 halaman &#8212;&#8212; SETELAH masa reformasi, warna lokal dalam jagat sastra Indonesia kembali menggeliat, seperti sejak awal-awal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=28&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bali Post, 21 Oktober 2007</p>
<p>Lewat buku ini pembaca diajak untuk melihat potret mini Bali yang terus berproses.</p>
<p>Inilah Kebalian Cerpen Indonesia</p>
<p>Judul : Penari Sanghyang<br />
Pengarang : Mas Ruscitadewi<br />
Penerbit : Arti Foundation Denpasar,<br />
2007<br />
Tebal : 100 halaman</p>
<p><span id="more-28"></span>&#8212;&#8212;</p>
<p>SETELAH masa reformasi, warna lokal dalam jagat<br />
sastra Indonesia kembali menggeliat, seperti sejak awal-awal masa<br />
kelahirannya pada dekade 1920-an. Hal ini tentu membanggakan paling<br />
tidak dalam dua hal. Pertama, budaya lokal yang diekspresikan oleh<br />
pengarang dari daerah asal budaya itu bisa memperkenalkan kearifan<br />
lokal yang tidak dipunyai daerah lain. Sumbangan ini bisa memperkaya<br />
pesona budaya untuk saling memahami dan menumbuhkan saling<br />
pengertian di tengah keberanekaan kultur. Dalam konteks ini, pesona<br />
budaya lokal itu menjadi perekat sekaligus penghubung antar-<br />
perbedaan budaya menuju persatuan dalam konteks ke-Indonesia-an.</p>
<p>Kedua, pengarang yang menulis daerahnya sendiri<br />
sebagai objek ekspresi diandaikan memiliki pemahaman optimal<br />
terhadap berbagai fenomena budaya yang berkembang di sekitarnya.<br />
Pengarang seperti ini bisa merasakan getar jiwa dari sumur<br />
lokalitasnya sehingga penggunaan diksi daerah tidak ngawur. Prinsip<br />
kepengarangan seperti ini berkorelasi dengan prinsip belajar bahasa<br />
dalam linguistik yang dikenal dengan konsep &#8220;here and now&#8221; &#8212; di<br />
sini dan sekarang. Belajar dari hal-hal yang dekat di sekitar dalam<br />
kekinian.</p>
<p>Dua pertimbangan itu tampaknya bisa dikenakan pada<br />
cerpen-cerpen Mas Ruscitadewi dalam buku &#8220;Penari Sanghyang&#8221; ini.<br />
Buku ini memuat 10 cerpen yang sebelumnya telah dipublikasikan di<br />
media massa. Semua cerpen ini sangat kental dengan lokalitas Bali,<br />
baik yang dinyatakan secara eksplisit maupun secara implisit. Cerpen<br />
yang secara eksplisit mencitrakan warna lokal Bali di<br />
antaranya &#8220;Penari Sanghyang&#8221;, &#8220;Pertarungan&#8221;, &#8220;Gedong&#8221;, dan &#8220;Namaku<br />
Astra&#8221;. Sisanya mengangkat warna Bali secara tersembunyi.</p>
<p>Dari pilihan judul, buku ini telah mencitrakan<br />
kebalian cerpen Indonesia yang menyiratkan pengarangnya secara<br />
intens mengangkat tradisi pementasan teater tradisional melalui<br />
pementasan Tari Sanghyang. Penari dalam teater ini dikisahkan bukan<br />
penari sembarangan, melainkan penari pilihan sesuunan melalui ritual<br />
yang sakral. Dari sini Bapa Rauh dititahkan menjadi penari Sanghyang<br />
sampai mati, walaupun sudah ada sembilan orang yang berupaya<br />
menggantinya dengan alasan Bapa Rauh sudah uzur. &#8220;Bukan Bapa tidak<br />
mau diganti sebagai penari Sanghyang, tetapi karena hidup Bapa<br />
sebagai penari Sanghyang, biarlah Bapa mati sebagai penari<br />
Sanghyang.&#8221; (hal.7).</p>
<p>Kutipan itu mengamanatkan penari sakral yang<br />
ditunjuk sesuunan tidak bisa diganti sembarangan apalagi dengan<br />
ambisi pribadi walaupun memiliki kesaktian. Mereka yang menari<br />
dengan ambisi pribadi tariannya akan hambar tidak ber-taksu<br />
sebagaimana tersirat dalam cerpen &#8220;Pertarungan&#8221;. &#8220;Lihatlah mereka<br />
mulai menyingkir, karena mereka menari dengan ambisi, bukan dengan<br />
nurani.&#8221; (hal.27). Berkesenian yang sarat dengan ambisi bukanlah<br />
masolah karena masolah identik dengan ngayah melalui landasan cinta<br />
kasih nan tulus. Hal ini dituangkan dalam cerpen &#8220;Namaku Astra&#8221;.</p>
<p>Jika dalam &#8220;Penari Sanghyang&#8221;, &#8220;Namaku Astra&#8221;,<br />
dan &#8220;Pertarungan&#8221;, Mas Ruscitadewi mengekplorasi tarian (sakral)<br />
untuk menghidupkan kisahnya, maka dalam &#8220;Gedong&#8221; ia menyuarakan<br />
perebutan gedong oleh orang-orang puri. Perebutan gedong dilakukan<br />
untuk bisa memerintah orang-orang puri. Perebutan ini dalam konteks<br />
kekinian identik dengan perebutan kursi jabatan dalam politik<br />
pemerintahan. &#8220;Gedong adalah pusat kekuasaan di Puri ini&#8221;. Puri,<br />
dengan demikian, diniatkan oleh pengarang sebagai sumber inspirasi<br />
dalam melahirkan pemimpin ideal karena telah dilembagakan melalui<br />
konvensi orang-orang puri.</p>
<p>Ciri Kebalian</p>
<p>Mencermati secara keseluruhan cerpen dalam buku<br />
ini, paling tidak ada empat hal yang menandai ciri kebalian cerpen<br />
Indonesia. Pertama, kentalnya budaya ritual keagamaan (Hindu) yang<br />
menyatu dengan adat (Bali) dalam kisah cerpen. Berimpitnya adat dan<br />
agama telah melahirkan tradisi menghaturkan sesajen yang penuh<br />
dengan bau kembang dan dupa. Kedua, kemenangan tokoh-tokoh yang<br />
dititahkan oleh sesuunan untuk menjadi pengawal seni adalah model<br />
pendidikan seni yang diwariskan secara turun-temurun. Hal inilah<br />
yang membuat proses regenerasi berkesenian di Bali senantiasa<br />
berkesinambungan.</p>
<p>Ketiga, kuatnya dominasi berkesenian yang<br />
menempatkan budaya ngayah sebagai bagian kehidupan mendorong seniman<br />
melakukan pencarian secara mendalam hingga ber-taksu. Keempat,<br />
intensnya kekuasaan Puri dalam menata diri ke dalam adalah bukti<br />
bahwa Bali di bawah naungan NKRI tidak serta merta menghapus sistem<br />
tradisi yang hidup dan berkembang lebih dulu. Buktinya belakangan<br />
ini, puri terus digali sebagai sumur inspirasi oleh ilmuwan maupun<br />
seniman, termasuk sastrawan.</p>
<p>Karenanya, lewat buku ini pembaca diajak untuk<br />
melihat potret mini Bali yang terus berproses. Dinamika itu<br />
direpresentasikan melalui cerita. Cerita ini tidak tertutup<br />
kemungkinan bermula dari berita. Jika kemungkinan itu benar, maka<br />
cerita bisa menjadi wacana sanding bagi berita dalam arti bahwa<br />
cerita (pendek) bisa menjadi pelengkap bagi berbagai wacana dalam<br />
pemberitaan secara faktual. Kebalian cerpen Indonesia yang digarap<br />
Mas Ruscitadewi ini melengkapi cerpen-cerpen Putu Wijaya, Aryantha<br />
Soethama, dan Oka Rusmini yang lebih dulu menggali sumur peradaban<br />
Bali ke dalam karya-karyanya.</p>
<p>Namun demikian, kekayaan kultur yang kelak menjadi<br />
dokumen budaya ini masih menyisakan persoalan teknis terutama dalam<br />
tatatulis. Beberapa kosakata Bali yang seharusnya dicetak miring,<br />
tidak dibedakan tatacara penulisannya dengan kosakata Indonesia. Hal<br />
ini mungkin akan membingungkan bahkan menyulitkan pemahaman pembaca<br />
non-Bali.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kesusastraan.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kesusastraan.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kesusastraan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kesusastraan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kesusastraan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kesusastraan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kesusastraan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kesusastraan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kesusastraan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kesusastraan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kesusastraan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kesusastraan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kesusastraan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kesusastraan.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kesusastraan.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kesusastraan.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=28&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/kebalian-cerpen-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cahaya Sunyi Ibu</title>
		<link>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/cahaya-sunyi-ibu/</link>
		<comments>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/cahaya-sunyi-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2007 01:42:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/cahaya-sunyi-ibu/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Triyanto Triwikromo Jawa Pos, Minggu, 21 Okt 2007, Badak Tak Berbedak JANGAN sekali-kali kaubuat Ibu kesepian, Ros. Kesepian, mungkin kau tidak pernah tahu, mirip krematorium. Panas, gelap, berdinding tembok dingin kelabu, dan sangat pengap. Di panti wreda, saat aku melayat Caroline, Ibu mengamuk hanya gara-gara aku tak bergegas membawa sahabatnya yang kerap bercerita tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=27&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen Triyanto Triwikromo<br />
Jawa Pos, Minggu, 21 Okt 2007,</p>
<p>Badak Tak Berbedak<br />
JANGAN sekali-kali kaubuat Ibu kesepian, Ros. Kesepian, mungkin kau tidak pernah tahu, mirip krematorium. Panas, gelap, berdinding tembok dingin kelabu, dan sangat pengap. Di panti wreda, saat aku melayat Caroline, Ibu mengamuk hanya gara-gara aku tak bergegas membawa sahabatnya yang kerap bercerita tentang keindahan kepak burung seagull di Pantai Santa Monica atau Redondo itu, ke rumah sakit terbaik di Los Angeles.  <span id="more-27"></span></p>
<p>&#8220;Sepeninggal Caroline, aku pasti akan seperti merpati tua yang rapuh dan kehilangan keinginan untuk sekadar menggerakkan sayap. Aku pasti seperti tinggal di sebuah rumah yang dipenuhi oleh cahaya sembilan matahari,&#8221; kata Ibu yang kutahu kerap meniru-niru perumpamaan dalam Kitab Wahyu saat menggambarkan situasi dan kondisi buruk yang bakal dialami.</p>
<p>Tak kurespons imajinasi Ibu yang kacau itu. Tak seharusnya perempuan 60 tahun seanggun dan sekuat Ibu berbicara tentang panti wreda yang menyerupai neraka atau malam penuh suara riuh sembilan naga yang menyembur-nyemburkan api ke sekujur kamar sarat boneka. </p>
<p>Aku menduga kesalingbergantungan Ibu dan Caroline &#8211;termasuk dalam mengurus bunga anggrek dan mawar di taman&#8211; telah membuat kedua perempuan itu seakan-akan tak memiliki tongkat penopang lain. Mereka tak pernah bisa percaya orang lain, bahkan kepada Nora, direktur rumah penampungan untuk orang-orang tua itu. </p>
<p>&#8220;Kalau Caroline mati, pasti tak lama lagi aku juga akan mati,&#8221; kata Ibu suatu hari, &#8220;Jadi sebaiknya mumpung masih hidup, perlakukan Caroline sebagaimana kau dan Rosa menyayangi aku.&#8221;</p>
<p>Aku menganggap semua omelan Ibu hanyalah strategi untuk melanggengkan persahabatan dia dengan Caroline. Menyayangi Caroline, sebaiknya kau tahu, berarti aku harus ikut mendanai kehidupan dia di panti wreda Glendale. Caroline, nenek sihir 80 tahun itu, tak punya anak yang bisa dirampok untuk mendanai kehidupan masa tua yang tanpa harapan tanpa cucu dan sehamparan kecil taman dengan berbagai pohon dan bebungaan.</p>
<p>&#8220;Kalau Yesus masih hidup, kalau tak dililit oleh sembilan naga dari selatan di kayu salib, Raja Bukit Golgota itu pasti akan menolong Caroline. Jadi, jika kau ingin meniru Putra Nazareth itu, ayolah, ajak Rosa atau siapa pun untuk mendanai kami. Masa pada musim dingin yang membekukan tubuh, kau tega membiarkan kami tidur di emperan Jack in the Box atau Burger King?&#8221;</p>
<p>Sial! Mengapa Ibu selalu menyertakan Caroline dalam segala hal? Terus terang sejak awal aku sudah enggan berurusan dengan perempuan kacau berwajah sapi yang senantisa berdandan menor itu. Sejak pertama bertemu aku sudah merasa berhadapan dengan monster yang bakal menawan Ibu dengan sihir busuk. Sebagai keturunan Yahudi yang mahir mengucapkan mantera-mantera aneh, aku yakin dia telah mengubah Ibu sekadar menjadi anjing penurut. Bahkan mungkin lebih jauh, hanya jadi beo yang senantiasa menirukan apa pun yang diharapkan oleh perempuan sialan itu.</p>
<p>Aku memang tak pernah tahu secara langsung segala yang terjadi di panti wreda, Ros. Tapi dari segala bisikan manusia-manusia jompo yang selalu kutemui di ruang rehabilitasi, terutama Angela dan Getruida, aku jadi tahu segala tindakan atau perilaku apa pun yang dilakukan oleh Ibu. </p>
<p>&#8220;Aku sering mengintip mereka. Caroline suka sekali mengulum bibir ibumu di kamar mandi. Oo, mereka sungguh-sungguh pasangan yang dahsyat. Jika tak ada pengawas, mereka suka tidur bersama dalam satu selimut. Hmm, kalau sudah seperti itu, aku sering membayangkan ada sepasang naga yang bergumul di langit tebal warna kelabu. Dengus dan desis mereka sungguh membuat kami yang telah kehilangan gairah hidup menjadi tak ingin mati esok pagi. O, Rafli yang tampan, apakah kau tetap akan membiarkan mereka bercinta sepanjang hari sepanjang malam?&#8221; kata Angela, perempuan 65 tahun berwajah teratai itu dalam nada yang terjaga, dalam irama yang meyakinkan siapa pun yang menjadi lawan bicara.</p>
<p>Ibu bercinta dengan perempuan Yahudi? Apakah aku harus percaya pada gosip murahan? Bagaimana mungkin Ibu yang masih sangat paham pada adab cinta orang-orang Alas &#8211;kota kita yang sungai-sungainya nyaris hilang dari ingatan siapa pun&#8211; bercinta dengan perempuan belut yang licin dan berbahaya? Jangan-jangan Angela menebar isu semacam itu karena ia tak bisa mencuri perhatian Caroline. Sebab Getruida pernah bilang padaku justru Angelalah yang sangat ingin sepanjang malam dibelai oleh perempuan aneh yang demi kejujuran harus kukatakan masih menawan sekalipun kadang-kadang kubayangkan sebagai badak tak berbedak.</p>
<p>&#8220;Tidak ada seorang pun di panti wreda yang tak tertarik pada Caroline, Rafli. John, suami Nora, pun kerap menggoda perempuan indah itu saat bersama ibumu, ia melenggang ke taman. Dan Angela, lesbian tengik itu, ingin mendekap sendiri perempuan yang digandrungi. Karena itu, jangan heran jika ia sangat membenci Tari, ibumu,&#8221; desis Getruida, perempuan yang pada masa ranum pernah menjadi penari di beberapa hotel Las Vegas itu, seakan-akan hendak menjilat telingaku.</p>
<p>Edan! Tak bisa kucerna dengan akal sehat segala perkataan orang-orang tua aneh yang jika di ruang perawatan lebih tampak sebagai manusia-manusia dungu yang hanya bisa mengelus-elus boneka sambil menggeleng-gelengkan kepala atau manggut-manggut tanpa irama itu. Juga tak bisa kucerna dengan jernih segala gerundelan manusia-manusia bloon tanpa wajah yang melongo menatap televisi yang menyiarkan kekonyolan polisi Los Angeles saat berhadapan dengan para pelacur ilegal di Casa del Mar itu.</p>
<p>Kesaksian Buijsen</p>
<p>Namun, mengertilah, Ros, aku juga dapat versi lain perilaku mereka dari Martin Buijsen. Buijsen, laki-laki tegap 74 tahun yang mengaku pernah jadi serdadu pada Agresi Militer Belanda II dan pernah tinggal di Yogyakarta itu, justru mengenal mereka sebagai sepasang malaikat yang menyelamatkan kehidupannya yang nyaris gila dan tak punya masa depan. </p>
<p>&#8220;Andai tak ada mereka, mungkin aku hanya akan menghabiskan waktuku di kasino-kasino Las Vegas. Ya, berjudi, kau tahu, lebih memberiku kesempatan untuk mengekspresikan kesedihan dan kegembiraan ketimbang bercakap-cakap dengan para sheriff bloon di bar-bar. Di hadapan mesin slot dan meja permainan berornamen elang, aku memang bisa tertawa atau nangis sesenggukan. Itu sebabnya aku tak mau mengurung diri dan hidup bersama orang-orang gagu di panti wreda? Tapi sejak mengenal ibumu dan Caroline, aku jadi kerasan mendengarkan cerita-cerita aneh mereka mengenai naga, sungai-sungai yang dihuni harimau berkepala gajah, atau apa pun yang bisa membuatku lupa pada kucuran darah para remaja Jawa yang kepalanya kupenggal di sembarang tempat,&#8221; bisik Buijsen sambil menarik lenganku dan berusaha menjauh dari Angela dan Lortha.</p>
<p>&#8220;Kudengar semua orang di panti wreda tak mau bicara denganmu, Buijsen? Juga Caroline dan ibuku?&#8221; </p>
<p>&#8220;Ya, mereka tak mau bergaul denganku karena takut aku akan membantai siapa pun dengan senapan tua,&#8221; kata Buijsen sambil meledakkan tawa, &#8220;&#8230;itu karena aku memang kerap bercerita atau ndremimil tentang pembantaian-pembantaian yang kulakukan di Maguwo. Padahal, kau tahu, sebagian besar kekejian yang kulakukan hanyalah karanganku belaka. Yang benar-benar terjadi, sebelum migrasi ke Amerika, aku dan para serdadu Belanda yang tengik dan pengecut bersembunyi di sebuah gua sunyi penuh pepohonon rimbun di kaki Gunung Merapi saat terjadi serangan umum yang dipimpin oleh Sultan.&#8221; </p>
<p>&#8220;Dan tentang Tari dan Caroline?&#8221; </p>
<p>&#8220;Merekalah yang mau mendengar ceritaku meskipun tahu telah kukibuli.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau suka mengintip mereka? Mereka suka bercinta?&#8221; aku bertanya dalam nada masygul.</p>
<p>Aku berharap dengan mengorek segala hal tentang ibuku dan Caroline dari Buijsen kudapatkan hal-hal baru mengenai mereka. Siapa tahu mereka memang sepasang kekasih yang tak bisa terpisahkan sampai kapan pun.</p>
<p>&#8220;Edan! Bagaimana mungkin sepasang malaikat bercinta di hadapan banyak orang? Jangan melontarkan pertanyaan konyol. Hanya perempuan tengik dari Las Vegas semacam Angela dan Lortha, atau Getruida yang bisa berciuman di sembarang tempat. Kau tahu, Rafli, aku justru sering melihat ibumu dan Caroline bersujud lama sekali di taman penuh anggrek dan belalang&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang mereka perbuat?&#8221;<br />
&#8220;Mereka bilang di tempat itu Santa Maria menggendong bayi bercahaya diiringi tujuh malaikat dan sembilan naga selalu muncul setelah senja tiba. Mereka juga bilang burung-burung dari bulan selalu menyertai perjalanan Perempuan Suci itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sampean percaya cerita itu?&#8221;<br />
&#8220;Kenapa harus tak percaya?&#8221;</p>
<p>Ah, Ros, saat Buijsen berusaha meyakinkan diriku tentang penampakan Santa Maria dengan segala kepolosan, aku justru ingat pada Bernadette Soubirous di Lourdes. Caroline dan Ibu jelas bukan perempuan-perempuan indah yang diberkati oleh Maria untuk memberikan terang kepada dunia. Ibu tetaplah perempuan Alas yang kita boyong ke Los Angeles dan tetap percaya Jaka Tarub mampu memenjara seorang bidadari dengan segala kesaktian busuknya. Ia &#8211;sekalipun mahir bahasa Belanda dan Inggris&#8211; tetaplah komunis saleh yang sangat yakin di Pantai Selatan bersemayam Ratu Kidul yang dengan segala daya mampu mengajak para raja bercinta di istana penuh berlian di dasar samudera. Dan, aku yakin benar, meskipun Ibu kini rajin ke gereja &#8211;mungkin untuk mengubur masa silam kelam di Lubang Buaya dan penyamaran&#8211; ia sama sekali tak tertarik pada dongeng-dongeng aneh tentang Maria atau keajaiban-keajaiban kecil Bernadette Soubirous.</p>
<p>Aku menduga cerita tentang penampakan Santa Maria hanyalah akal-akalan Caroline agar dia tetap menjadi pusat perhatian. Harus kuakui saat menceritakan pemujaan membabibuta Bernadette terhadap Maria atau mendongeng mengenai gua-gua tanpa kelelawar tempat Bunda Yesus memberi semangat orang-orang miskin di Lourdes agar membebaskan diri dari kesengsaraan, Caroline memang lebih mirip trubador ketimbang nenek tua yang tak mengerti silsilah para nabi atau rasul. </p>
<p>&#8220;Karena itu, percayalah padaku, Rafli! Mereka adalah sepasang malaikat yang dikirimkan dari surga untuk menyelamatkan kami &#8211;orang-orang tua yang diabaikan oleh anak-anak&#8211; dengan katakanlah cerita-cerita tentang keajaiban-keajaiban mawar dan anggrek, iblis harum, serta warna senja aneh yang sekali waktu akan muncul di Pantai Redondo atau Santa Monica. Apakah kau pernah melihat burung-burung seagull di kedua pantai itu, Rafli?&#8221; desis Buijsen sambil terus menyeretku ke halaman belakang panti wreda.</p>
<p>Aku menggeleng. Ingin sekali kukatakan kepada pria tua itu betapa aku sama sekali tak suka pada pantai, angin asin, ketam asing, senja brengsek, pasir putih, gelombang kecil, atau burung-burung yang bertengger di batu-batu hitam. Kalaupun sekali waktu harus ke Santa Monica bersama Ibu dan Caroline, itu karena aku harus berpura-pura berbakti kepada orang tua. </p>
<p>&#8220;Caroline dan Tari sangat senang memandang langit yang membentang di atas laut. Kata mereka, setelah seseorang mencapai usia lebih daripada 71 tahun, ia akan dapat melihat wajahnya sendiri di antara gumpalan awan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, mereka juga mengatakan seperti itu kepadaku? Apakah Sampean juga telah bisa melihat wajah Sampean yang lucu?&#8221;<br />
Buijsen menggeleng.<br />
&#8220;Wah, kalau begitu Sampean belum benar-benar menemukan inti kehidupan,&#8221; gurauku.</p>
<p>&#8220;Inti kehidupan?&#8221;<br />
&#8220;Ya, inti kehidupan, Buijsen, lahir setelah orang bisa menyembunyikan diri yang buruk ke ceruk sedalam kakus. Inti kehidupan lahir jika Sampean bisa menatap topeng aneh Sampean di sebalik gumpalan awan,&#8221; kutipu Buijsen dengan filosofi hidup asal-asalan.</p>
<p>Aku dan Buijsen lalu tertawa bersama. Tak bisa kumaknai dengan pasti apa yang ia tertawakan. Mungkin ia tahu aku hanyalah badut konyol yang sedang kebingungan menghadapi perilaku aneh orang-orang tua yang hidup di panti wreda bersama ibunya. Mungkin ia tahu percakapanku dengan siapa pun di rumah penampungan manusia-manusia jompo ini hanyalah omong kosong yang tak seharusnya dilakukan di kota sepraktis dan sepragmatis LA.</p>
<p>Ah, Ros, terus terang sampai kini aku tak bisa percaya seratus persen pada segala perkataan Buijsen tentang Caroline dan Ibu. Saat mengantar Caroline ke pemakanan, aku tak melihat ia sebagai sosok yang sangat mengenal perempuan badak itu. Wajahnya sama sekali tak mencerminkan sebagai pria yang kehilangan sahabat terkasih saat ia berjalan paling belakang di antara puluhan orang yang mengantar Caroline ke liang lahat.</p>
<p>Aku juga kaget saat dengan bersungut-sungut ia bilang, &#8220;Mengapa kautangisi sesuatu yang sudah seharusnya mampus pada saat Hitler membakar para cecunguk Yahudi?&#8221;</p>
<p>Jadi, bagaimana mungkin aku bisa percaya pada manusia yang tak menghargai persahabatan?</p>
<p>Percintaan Anggrek<br />
Tentu saja aku tak pernah menyerah untuk memahami Ibu, Ros. Dan aku sedikit tahu misteri persahabatan Ibu dengan Caroline sehari setelah Caroline dimakamkan. Meniru Angela, Lortha, atau Getruida, aku mengintip segala tindakan Ibu dari jarak yang sangat dekat. </p>
<p>Angin Glendale menggerak-gerakkan lonceng-lonceng kecil di panti wreda malam itu. Suhu 12 derajat Celcius menyusup pelan ke dalam kulit ari-ari, tetapi tetap saja Ibu dengan langkah yang anggun berjalan menuju ke taman, menuju tempat ia dan Caroline memuja patung Maria, bergaul dengan anggrek dan mawar, dan mungkin satu dua belalang.</p>
<p>&#8220;O, Putri Anggrek yang cantik, mereka toh tak tahu betapa aku dan Caroline sedang mempersiapkan perkawinanmu dengan Pangeran Mawar. Dan kini Caroline telah meninggalkan kita, apakah kau tetap ingin bercinta dengan kekasih pujaanmu?&#8221; kata Ibu sambil membelai setangkai anggrek.</p>
<p>Tentu saja aku terkejut, tetapi aku mencoba menahan diri untuk tak menimbulkan bunyi selirih apa pun. Jika saja bisa menghentikan degub jantung, akan kuhentikan juga suara yang hanya bisa diistirahatkan oleh Tuhan itu.</p>
<p>&#8220;Hmm, mereka juga tak tahu, selama ini aku dan Caroline hanya berpura-pura memuja Santa Maria. Mereka tak tahu betapa kami selalu mempercakapkan bagaimana cara melarikan diri dari panti wreda yang menganggap kami &#8211;orang-orang tua malang&#8211; hanya sebagai barang rongsokan yang diberi obat tidur sepanjang hari sepanjang malam. Okelah, Putri, aku selalu berdoa dan bilang pada Gusti Allah agar Ia jangan mengambil nyawa orang-orang yang baru bertemu dengan warna pagi. Caroline juga bilang pada Allah agar Ia mengambil saja nyawa orang-orang yang telah menatap malam. Jadi, tanpa diracun dengan segala obat pun, kami sudah merindukan kematian.&#8221;</p>
<p>Nora hanya memberi obat tidur pada orang-orang jompo ini? Kejahatan macam apa ini? Gigiku bergemelutuk, tapi aku tetap tak mau mengganggu percakapan Ibu dengan anggrek-angrek itu.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, aku setuju pada pendapatmu, Putri, anak-anak kita akan selalu menganggap kita sebagai sosok yang rapuh, sosok yang jika bisa segera saja dihilangkan dari mata licik mereka. Tapi, aku tak mau jadi sosok yang rapuh itu. Ketahuilah, Putri, bersama teman-teman, besok aku akan melarikan diri dari panti wreda sialan ini. Kami akan ke Redondo, Santa Monica, dan Marina del Rey. Kami akan jadi manusia yang bebas melakukan apa pun di pantai&#8230;. Kami akan memandang bulan puas-puas dan menolak permintaan Nora agar kami tidur sebelum pukul 19.00. Kami akan&#8230;&#8221;</p>
<p>Tipuan Senja</p>
<p>Karena itu, Ros, aku ragu pada temuan-temuan awalku tentang orang-orang yang tinggal di panti wreda ini. Semula kusangka Caroline hanyalah perempuan yang menyembunyikan keyahudian dengan memuja matian-matian Santa Maria di hadapan siapa pun, nyatanya ia martir yang menggalang pemberontakan untuk melawan kekejaman Nora. Semula kusangka Ibu hanyalah perempuan yang bisa menyembunyikan kekomunisannya di negeri paling membenci hantu yang diembuskan oleh mulut bau Karl Marx, nyatanya ia hanyalah perempuan Alas yang menganggap bunga-bunga, daun-daun, dan serangga bisa punya mulut untuk menceritakan isi dunia. Aku juga menduga Buijsen hanya laki-laki pengecut yang ingin menyimpan senapan di balik bantal, nyatanya ia lelaki tengik yang tak menghargai persahabatan.</p>
<p>Jadi, agar kau benar-benar mengerti tentang Ibu, kini tiba saatnya aku mengajakmu ke pantai, Ros. Akan aku ajak kau mendengarkan percakapan Ibu dengan bulan. Akan aku ajak kau mendengarkan Ibu menyenandungkan mantera-mantera aneh sambil ia membayangkan menjadi burung seagull yang terbang ke batas senja, ke keheningan bulan di atas cakarawala.</p>
<p>Apakah menurutmu Ibu akan menjadi burung bulan, Ros? Tak perlu kaujawab pertanyaan itu. Aku lebih berharap Ibu berjalan sendiri ke pantai ini dan menemukan sepasang anak yang mencintainya takjub memandang seorang maharani yang kemilau tangannya bisa mengubah riak ombak menjadi cahaya sunyi yang meneduhkan hati. ***</p>
<p>Los Angeles-Semarang, 2007</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kesusastraan.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kesusastraan.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kesusastraan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kesusastraan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kesusastraan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kesusastraan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kesusastraan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kesusastraan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kesusastraan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kesusastraan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kesusastraan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kesusastraan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kesusastraan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kesusastraan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kesusastraan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kesusastraan.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=27&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/cahaya-sunyi-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rindu Ibu pada Bumi</title>
		<link>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/rindu-ibu-pada-bumi/</link>
		<comments>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/rindu-ibu-pada-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2007 01:21:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/rindu-ibu-pada-bumi/</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Ida Ahdiah Suara Karya, Sabtu, 20 Oktober 2007 Di awal musim gugur itu Ibu duduk di tepi jendela, menyaksikan daun-daun lepas dari tangkainya. Daun-daun yang telah berubah warnanya, kuning, merah, dan tembaga itu mendarat di atas rumput yang mengkerut kedinginan. Bumi telah kehabisan kehangatannya. Sebentar lagi pohon-pohon itu kesepian, ditinggalkan daun-daun. Angin yang menderu-deru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=26&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerpen: Ida Ahdiah<br />
Suara Karya, Sabtu, 20 Oktober 2007</p>
<p>Di awal musim gugur itu Ibu duduk di tepi jendela, menyaksikan daun-daun lepas dari tangkainya. Daun-daun yang telah berubah warnanya, kuning, merah, dan tembaga itu mendarat di atas rumput yang mengkerut kedinginan. Bumi telah kehabisan kehangatannya. Sebentar lagi pohon-pohon itu kesepian, ditinggalkan daun-daun. Angin yang menderu-deru bersekutu dengan angkasa yang buram, tak bercahaya.</p>
<p>Kulihat dua titik air bening di kedua sudut mata Ibu. &#8220;Apakah Ibu tidak bahagia?&#8221; Tanyaku. <span id="more-26"></span></p>
<p>Ia membawa telapak tanganku ke pipinya yang basah dan hangat oleh air mata. &#8220;Ibu hanya rindu pada bumi tempat ari-ari Ibu dikubur. Bumi yang sudah berulang-ulang kuceritakan padamu. Tidakkah kamu bosan, anak perempuanku?&#8221;</p>
<p>Aku menggeleng. Aku senang melihat Ibu bahagia saat menceritakannya.</p>
<p>Ibu rindu pada sebuah desa dengan sawah membentang, sambung menyambung, menyundul bukit dan gunung. Harum padi yang siap dipanen, di bawah gerimis senja, kata Ibu, tak bisa dimasukkan ke dalam botol atau menjadi aroma tisu basah. Hanya bisa dinikmati masa lalunya, kala Ibu berjalan di pematang sawah dengan kaki telanjang, bertudung daun pisang. Lalu lembayung muncul di sela dua bukit, di langit sebelah Selatan.</p>
<p>Ibu rindu pada rumah masa kecilnya yang bau asap kayu bakar dari dapur yang berjelaga. Ada kolam ikan di belakang rumah yang tepinya ditanami pohon jarak, leunca, daun bawang dan seledri. Lalu kandang ayam tempat si Burik dan Jago ayam Ibu menghabiskan malam bersama ayam lain milik kedua adik dan kedua kakak Ibu. Pagi, Ibu mencampur dedak dengan air panas buat sarapan kedua ayamnya.</p>
<p>&#8220;Burik beranak-pinak dan seekor anaknya adalah bebek, yang Burik sayang dan dilindungi seperti anaknya sendiri. Tiap kali orang mendekati bebek, tiap kali pula Burik menaikkan sayapnya dan berlari siap mencengkram.&#8221; kata Ibu.</p>
<p>&#8220;Ayam beranak bebek!&#8221; </p>
<p>&#8220;Kakek menaruh sebutir telur bebek untuk dierami Burik,&#8221; kata Ibu.</p>
<p>&#8220;Ibu rindu Burik?&#8221;</p>
<p>&#8220;Burik disembelih. Dagingnya Nenek buat opor untuk lauk makan kami.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bu, ceritalah tentang sumber air panas di kaki gunung,&#8221; pintaku.</p>
<p>Sumber air panas bau belerang itu menyumur di kaki gunung di bawah pohon beringin. Ibu dan teman-teman menemukannya secara kebetulan, sepulang mencari mangga yang jatuh dari pohonnya. Mereka memagari sumber air panas yang dalamnya setinggi dengkul itu dengan daun kelapa agar bisa mandi leluasa. Temuan itu beredar dari mulut ke mulut. Sumber air panas berbau belerang itu kemudian ramai dikunjungi karena dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Kepala desa kemudian memperbaiki, mengangkat juru kunci dan menetapkan tarif bagi siapa saja yang mandi.</p>
<p>&#8220;Ibu masih menyimpan foto-foto masa kecil Ibu?&#8221;</p>
<p>Pertanyaanku mengagetkan Ibu yang kembali sedang memandangi daun-daun lepas dari tangkainya.</p>
<p>&#8220;Saat itu kamera masih langka. Semuanya Ibu abadikan di sini.&#8221; Ibu menunjuk dadanya. &#8220;Dengarkan saja cerita-cerita Ibu. Mintalah Ibu bercerita jika kamu ingin.&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>Di awal musim dingin Ibu duduk di tepi jendela, menyaksikan serpih-serpih salju melayang, berkejaran, sebagian menyangkut di ranting-ranting kosong yang ditinggalkan daun-daun di musim gugur. Sebagian salju mendarat di mana saja, di bumi yang beku, yang berselimut putih sejauh mata memandang, yang seolah tak mampu menopang kehidupan. Padahal waktu tetap berisi gerak dan langkah seperti musim-musim terdahulu dan yang akan tiba. Orang-orang tetap bekerja dan berkarya.</p>
<p>Kulihat dua titik bening di kedua sudut mata Ibu. &#8220;Apakah Ibu tidak bahagia?&#8221; Tanyaku.</p>
<p>Ibu meraih tanganku tanpa melepas pandangan dari luar jendela. Menempelkan telapak tanganku ke pipinya yang hangat dan basah. Ibu tidak menjawab, ia malah bertanya, &#8220;Maukah kau menemani Ibu ke bumi tempat ari-ari Ibu dikubur?&#8221;</p>
<p>Untuk sebuah liburan, napak tilas di bumi tempat ari-ari Ibu dikubur, amat kuimpikan. Ingin aku berjalan di pematang sawah dengan kaki telanjang di bawah hujan gerimis bertudung daun pisang. Menengok Nenek, Kakek dan saudara-saudara yang kerap Ibu sebut dalam cerita-ceritanya, yang tak kuhapal nama-namanya. Betapa nyamannya membayangkan mandi air panas di kaki gunung .</p>
<p>&#8220;Ibu, Papa, dan aku?&#8221;</p>
<p>Ibu menggeleng. &#8220;Hanya Ibu dan kamu.&#8221;</p>
<p>Sudah lama Ibu dan Papa tak banyak berkata-kata. Jika mereka bicara suara mereka kencang dan bahasa mereka kasar. Lama sekali tak pernah kulihat Papa mencium pipi Ibu. Sudah lama tak kudengar Ibu memanggil Papa, Darling. </p>
<p>&#8220;Papa menyakiti hati Ibu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kami saling menyakiti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah habiskah cinta Ibu buat Papa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu pernah menjatuhkan seluruh perasaan dan harapan hanya untuknya. Ibu ikhlas diusir dari bumi tempat ari-ari Ibu dikubur karena mereka tidak setuju Ibu menikah dengan pria asing, beda keyakinan.&#8221;</p>
<p>Aku terkesima, tak menyangka. &#8220;Maukah Ibu bercerita tentang perempuan muda yang pemberani itu.&#8221;</p>
<p>Perempuan muda itu, kata Ibu, ingin melihat bumi di balik gunung, di seberang sungai, di langit berbeda, di seberang samudera, di mana saja asal bukan di bumi tempat ari-arinya dikubur. Ia jenuh melihat sawah, padi, gunung, lenguh kerbau, dan bau lumpur. Ia tak ingin lagi malam-malamnya terus diganggu oleh suara jangkrik atau katak seusai hujan. Ia mual dengan bau taik ayam dan asap kayu bakar. </p>
<p>Perempuan muda itu akhirnya meninggalkan desa. Ia pindah ke kota yang bertabur cahaya, masuk sekolah menengah pemandu wisata. Lulus sekolah ia bekerja di sebuah biro perjalanan, menemani pelancong, mengulang-ulang cerita tentang riwayat sebuah tempat. &#8220;Ibu tabung sisa penghasilan yang tak seberapa, siapa tahu Ibu bisa melancong ke bumi lain,&#8221; kata Ibu.</p>
<p>Sampai pada kala seorang turis meminta tour yang tidak biasa. Ia ingin pergi ke desa. Ibu mengajak turis pria itu menyaksikan petani membajak sawah dengan kerbau. Ibu membawanya ke pasar yang hanya buka pagi, di hari Sabtu. Ia terbeliak melihat kerbau, ayam, dan kambing dijual hidup-hidup. Saat makan tiba Ibu membawa turis itu ke rumah Nenek, yang memasak nasi dan sayur dengan kayu bakar dan tungku tanah. </p>
<p>&#8220;Kami saling jatuh cinta. Kami saling tergila-gila. Kebesaran cinta itulah yang membawa Ibu ke negeri ini,&#8221; tutur Ibu. Larangan Kakek dan Nenek untuk tidak menikah dengan pria asing tak Ibu indahkan. Ibu diusir. &#8220;Kakek bilang, Ibu boleh pulang kalau Ibu sudah bercerai dengan Papamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tak mengerti mengapa Nenek dan Kakek sekejam itu. Bukankah Papa juga manusia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nenek dan Kakek menganggap aib besar anak gadisnya menikah dengan pria asing, berlainan keyakinan.&#8221;</p>
<p>Untuk memahaminya aku mungkin perlu menemani Ibu, menengok bumi tempat ari-ari Ibu dikubur. Buminya yang memiliki suhu, warna kulit, makanan, dan cara pandang yang berbeda. </p>
<p>&#8220;Bu, apakah Nenek dan Kakek akan menerima kehadiran Ibu? Kehadiranku?&#8221;</p>
<p>Ibu menggeleng. &#8220;Tidak, sebelum Ibu dan Papa bercerai.&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>Di awal musim semi Ibu duduk di tepi jendela, menyaksikan dahan-dahan yang mulai berputik. Panas matahari melepaskan kepengapan rumput-rumput yang selama musim dingin bertahan hidup di bawah timbunan salju. Lembar-lembar daun tulip dan dafodil mencuat dari tanah. Sebentar lagi bunganya yang warna-warni memenuhi taman, dikunjungi serombongan burung yang baru kembali dari negeri hangat, tempat mereka tinggal selama musim dingin.</p>
<p>Kulihat dua titik bening di kedua sudut matanya. &#8220;Apakah Ibu tidak bahagia?&#8221; Entah mengapa aku kembali mengulang pertanyaan bodoh, yang sebenarnya aku tahu jawabnya dengan melihat air mata di pipinya.</p>
<p>Ibu membawa telapak tanganku ke pipinya yang hangat dan basah oleh air mata. &#8220;Ibu bahagia memilikumu. Bahagia melewati musim demi musim bersamamu. Bahagia melihatmu tumbuh dewasa. Musim panas nanti, maukah menemani Ibu pulang ke bumi tempat ari-ari Ibu dikubur?&#8221;</p>
<p>Ini ajakan kesekian kalinya setelah Papa dan Ibu bercerai. Pengadilan menyerahkan segala keputusan padaku untuk ikut Papa, Ibu, atau memilih tidak ikut siapa-siapa. Di usiaku, secara hukum aku berhak menentukan pilihan.</p>
<p>&#8220;Di sana kau akan menikmati musim panas sepanjang tahun,&#8221; kata Ibu.</p>
<p>&#8220;Tapi aku akan kehilangan musim semi seperti ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau akan bertemu dengan Nenek, Kakek dan saudara-saudaramu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tak akan bertemu Papa dan teman-teman.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau bisa mencari teman baru.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku suka teman baru, tapi berat hati meninggalkan teman lama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau bisa jadi pemain sinetron, muncul di televisi, dan populer,&#8221; canda Ibu yang tahu itu bukan pilihanku. Teman-teman Ibu juga bilang wajah indoku bakal laku keras untuk diangkat jadi bintang sinetron.</p>
<p>&#8220;Tinggalah di sini bersamaku. Aku akan menjaga Ibu seperti orang di negeri Ibu menjaga orangtuanya.&#8221; </p>
<p>Ibu menolehku, lemah. Matanya berkaca-kaca. Susah payah ia menelan ludahnya.</p>
<p>&#8220;Kau memilih tinggal bersama Papa?&#8221;</p>
<p>Aku menggeleng. </p>
<p>&#8220;Ke mana kau akan pergi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku belum tahu.&#8221;</p>
<p>Ibu membawaku ke pelukannya.</p>
<p>&#8220;Kembalilah ke bumi tempat ari-ari Ibu dikubur jika itu membuat Ibu bahagia. Aku berjanji akan mengunjungi Ibu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Begitu cepat waktu membawamu dewasa,&#8221; bisik Ibu.</p>
<p>* * *</p>
<p>Di musim panas Ibu membawaku duduk di taman, di tepi sungai dengan kapal-kapal pesiar lalu lalang di sekitarnya. Pohon-pohon rindang, rumput-rumput hijau dan air mengalir di bawah panas matahari yang lengket. Burung camar siling berganti menukik ke permukaan sungai, menangkap ikan. </p>
<p>Besok Ibu akan kembali ke bumi tempat ari-arinya dikubur. Tak ada dua titik bening di kedua sudut matanya. &#8220;Mintalah Ibu bercerita jika kamu ingin, sebelum Ibu pergi,&#8221; kata Ibu.</p>
<p>&#8220;Tentang perceraian Ibu dan Papa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu dan Papa berjanji akan menyimpannya hanya untuk kami berdua.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa cinta Ibu dan Papa yang semula mendasar, mendalam, hilang&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Lebih baik kau mencari tahu bagaimana orang lain sukses memelihara cinta dan kesetiaan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bu, di mana ari-ariku dikubur?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu tidak mengubur ari-arimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu menghanyutkan ari-arimu di sungai ini. Membungkusnya dengan dua bendera negara.</p>
<p>&#8220;Ibu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ari-arimu mungkin singgah di berbagai benua. Mungkin kini menetap di bawah laut atau Alien telah membawa ari-arimu ke luar angkasa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ibu&#8230;&#8221; </p>
<p>&#8220;Harapan Ibu kau bisa pergi ke mana pun. Kau bisa membawa diri di bumi dan angkasa mana pun kau menginjakkan kaki&#8230;&#8221; </p>
<p>Ibu telah melapangkan jalanku untuk merdeka! Sejak lama!***<br />
* Montreal, musim gugur 2006 </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kesusastraan.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kesusastraan.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kesusastraan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kesusastraan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kesusastraan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kesusastraan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kesusastraan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kesusastraan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kesusastraan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kesusastraan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kesusastraan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kesusastraan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kesusastraan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kesusastraan.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kesusastraan.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kesusastraan.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=26&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/rindu-ibu-pada-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamu Istimewa di Hari Lebaran</title>
		<link>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/tamu-istimewa-di-hari-lebaran/</link>
		<comments>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/tamu-istimewa-di-hari-lebaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2007 01:09:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/tamu-istimewa-di-hari-lebaran/</guid>
		<description><![CDATA[Suara Pembaruan Oleh Fathor Lt Pagi yang tak pernah hadir dalam mimpi-mimpiku semenjak perceraian yang tidak kita inginkan terjadi. Tiba-tiba saja pagi hadir membawamu beserta setumpuk kenangan yang lama telah terkubur. Tidak harus hidupku selalu berdampingan dengan orang-orang yang aku sayangi. Kesendirian pun bisa mengajariku tentang banyak hal, termasuk ego yang selalu menguasaiku. Martabat, menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=25&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suara Pembaruan<br />
Oleh Fathor Lt</p>
<p>Pagi yang tak pernah hadir dalam mimpi-mimpiku semenjak perceraian yang tidak kita inginkan terjadi. Tiba-tiba saja pagi hadir membawamu beserta setumpuk kenangan yang lama telah terkubur. </p>
<p>Tidak harus hidupku selalu berdampingan dengan orang-orang yang aku sayangi. Kesendirian pun bisa mengajariku tentang banyak hal, termasuk ego yang selalu menguasaiku. <span id="more-25"></span></p>
<p>Martabat, menjadi alasan untuk mengingkari hati. Jujur, aku masih merindukanmu. Sebab itulah kubunuh rindu ini dengan kesibukan-kesibukan yang tak pernah kukenal. </p>
<p>&#8220;Yon, bangun. Ada tamu. Isti.&#8221; </p>
<p>&#8220;Siapa yah?&#8221; kagetku.</p>
<p>&#8220;Isti!&#8221; teriak ayah. &#8220;Bersama Andin,&#8221; tambahnya.</p>
<p>&#8220;Anakku,&#8221; desisku. </p>
<p>Segera aku berlari ke kamar mandi. Dan setelah ganti baju, baru aku ke ruang tamu. Terlihat di sana ayah sedang memangku seorang bocah yang tak lain adalah Andin, cucunya sendiri, anakku, juga anak Isti. Isti duduk berhadap dengan ayah. Dan di samping Isti duduk seorang lelaki yang tak kukenal. Mungkin lelaki itulah penggantiku.</p>
<p>Melihatku, kekagetan dan keharuan Isti tak dapat ia sembunyikan. Makanya aku berpura-pura tidak memandanginya.</p>
<p>&#8220;Asslamu alaikum,&#8221; sapaku.</p>
<p>&#8220;Alaikum salam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Minal aidin wal faizin,&#8221; tambahku sambil menyalami mereka berdua.</p>
<p>&#8220;Sama-sama, Mas,&#8221; ungkap Isti.</p>
<p>&#8220;Ayah&#8230; Ayah jahat. Ayah gak pernah jenguk Andin. Ayah gak sayang Andin. Ayah jahat&#8230;,&#8221; teriak Andin sambil memukuliku, kemudian bergelayut dan duduk manja di pangkuanku.</p>
<p>&#8220;Maafkan ayah, nak. Ayah memang jahat. Jangan tiru ayah, ya. Ayah memang tak sayang lagi sama Andin. Andin tak usah ingat-ingat ayah lagi. Jalanin saja hidup baru Andin bersama orang yang menyayangi Andin,&#8221; ucapku terbata-bata. </p>
<p>Kuciumi pipi Andin sepuasnya, seolah aku ingin melepas buncah kerinduan yang tak tertahankan. Tiba-tiba saja suasana menjadi hening dan mengharukan. </p>
<p>&#8220;Oh ya&#8230; Andin pingin apa?&#8221; ungkapku memecah suasana.</p>
<p>&#8220;Andin pingin ayah ikut ke rumah Andin yang baru. Dan nganterin Andin setiap pagi ke sekolah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho, kan&#8230;?&#8221; ungkapku tak bisa menjelaskan apa-apa. Kupandangi Isti dan lelaki di sampingnya, dengan harapan mereka bisa memberikan penjelasan pada Andin. </p>
<p>&#8220;Kan ada pengganti ayah yang siap nganterin Andin tiap pagi,&#8221; jelas Isti.</p>
<p>&#8220;Tapi kan&#8230;?&#8221; protes Andin.</p>
<p>&#8220;Tu kan Andin. Masak lupa!? Katanya Andin tak ingin ngerepotin ayah,&#8221; potong Isti. Sedang Andin hanya cemberut tak berkomentar lagi.</p>
<p>&#8220;Oh ya. Dari tadi kok lupa gak kenalan,&#8221; Sela ayahku mengalihkan pembicaraan, sembari tangan kanannya dengan sopan menunjuk pada lelaki di samping Isti.</p>
<p>&#8220;E&#8230; Saya Dodi. Kami&#8230;,&#8221; ungkap Dodi tergeragap.</p>
<p>&#8220;Ini suami saya,&#8221; sambung Isti. &#8220;Sudah lima bulan kami nikah.&#8221;</p>
<p>&#8220;O&#8230; Begitu. Jadi ini suamimu. Kami ikut bersyukur. Semoga kalian menjadi keluarga yang baik,&#8221; tanggap ayahku.</p>
<p>&#8220;Amin&#8230;,&#8221; balas Dodi.</p>
<p>&#8220;Oh ya, dari tadi Yuli kok gak kelihatan?&#8221; tanya Isti.</p>
<p>&#8220;Yuli berlebaran di rumah mertuanya,&#8221; jawab ayahku.</p>
<p>&#8220;Jadi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi ya, saat ini di sini tinggal kami berdua. Tak ada perempuannya. Ha ha&#8230;&#8221; kelakar ayahku yang tak merasa hal seperti akan menyinggung perasaan Isti.</p>
<p>Untunglah ayahku tanggap. Segera ia kembali mencairkan suasana menjadi riang dengan penuh keakraban. Bahkan perbincangan kami tidak berhenti di meja saja, melainkan ayahku juga mengajak Dodi ke kebun kami di belakang rumah. </p>
<p>Terlihat kekaguman Dodi pada ayahku. Ia tak henti-henti memuji ayahku. Bukannya sekadar basa-basi, melainkan ayahku memang orang tua yang pantas dikagumi. Walau secara lisan aku tak pernah mengungkapkan kekagumanku. Bahkan segala pendapatnya tak jarang aku bantah.</p>
<p>Terakhir kali aku membantahnya, saat dia tidak menyetujuiku untuk menerima perceraian yang diajukan Isti. &#8220;Yon, kamu jangan menyerah. Jangan putus asa. Aku yakin ini semua bukanlah kemauan Isti. Jadi tak ada salahnya jika kau ambil Isti dari orang tuanya.&#8221; </p>
<p>&#8220;Sudahlah, yah. Aku tak ingin memperpanjang masalah. Biarkan Isti hidup tanpa aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu itu bodoh Yon. Jangan gampang menyerah. Ingat! Isti dan Andin pasti mederita ditinggalkan kamu. Dan tanpa Isti dan Andin, hidupmu akan lebih kacau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudahlah, yah. Aku tak ingin banyak berdebat. Bagiku sudah jelas mereka semua tak bisa menerimaku lagi.&#8221; </p>
<p>&#8220;Ya, terserah kamu, ayah tidak memaksa.&#8221;</p>
<p>Ternyata apa yang dikatakan ayah benar. Hari-hariku terasa hambar. Segala aktivitasku kian tak bisa kunikmati. Dan lima bulan setelah aku dan Isti dinyatakan bercerai, kehidupanku makin tak terarah. </p>
<p>Alih-alih profesiku sebagai perupa, berganti menjadi pedagang seni. Karya tak lagi terpikirkan. Siang dan malam yang ada dalam benakku hanya uang dan uang. Hingga sepenuh-penuhnya aku dapat melupakan Isti dan anakku. Anehnya ayah hanya diam saja melihatku. Tapi saat aku mulai membeli mobil dan tanah yang ukurannya cukup luas, barulah ayah angkat bicara. </p>
<p>&#8220;Kamu bukan lagi seniman. Kamu bukan lagi perupa. Kamu adalah broker yang dapat menghancurkan kehidupan para seniman. Tidakkah kamu rindukan kehidupanmu yang dulu. Di mana kamu masih bisa berpikir, bertindak dan merenung.&#8221; </p>
<p>Aku tak bisa membantah. Sebab aku akui, ungkapan ayah memang benar adanya. Tapi bagaimana untuk bisa mengembalikan aku pada kehidupan yang dulu. Juga mustahil Isti dan anakku akan kembali padaku. Padahal bukan merekalah yang menjadikan aku seorang perupa. Sebelum mereka hadir dalam kehidupanku, aku sudah menghasilkan banyak karya. Aku sendiri tak mengerti, kenapa mereka sangat berpengaruh dalam kehidupanku.</p>
<p>&#8220;Apalah artinya kemewahan jika engkau tak bisa menikmatinya.&#8221;</p>
<p>Begitulah ketidakputus-asaan ayah mengingatkanku. Di setiap aku mencoba berpura-pura dalam kesibukan, dan mendustai diri untuk sesuatu yang tak pernah aku inginkan.</p>
<p>Menjadi seniman memang berat. Materi selalu merayu untuk segera meninggalkan kehidupan seperti itu. Apalagi karya seni yang kucipta bukanlah karya pop yang diminati banyak orang.</p>
<p>Hal seperti inilah yang menyebabkan perceraianku dengan Isti terjadi. Memang sejak awal hubunganku dengan Isti tidak mendapat restu dari kedua orangtuanya. Hingga terpaksa aku kawin lari. Dan mengingat ibuku sudah meninggal, maka ayah memintaku untuk tinggal bersamanya.</p>
<p>Kehadiran Isti di rumah ini bagai cahaya. Isti mampu menjadi menantu yang baik. Ayah sayang padanya, melebihi aku dan Yuli adik perempuanku. Yuli pun demikian, merasa terayomi dengan kehadiran Isti. Sungguh lengkaplah kehidupan kami yang sederhana. Penuh kasih dan sayang.</p>
<p>Satu tahun kemudian, seisi rumah ini dibahagiakan atas kehadiran peri kecilku. Ayah memberinya nama Andinia Zulfa. Kupanggil ia Andin. Ia cantik seperti ibunya. Banyak tetangga yang memuja kecantikan Andin. Sempurna. Kami pun bersepakat untuk mengabarkan berita bahagia ini pada mertuaku. Mungkin dengan ini mereka bisa menerima aku dan Isti. Begitulah pikir ayah. </p>
<p>Kenyataan memang begitu. Bahkan aku dan Isti diminta tinggal bersama mereka di Jakarta. Sebab, tiga kakaknya sudah tinggal di rumahnya masing-masing. Aku dan Isti sepakat. Tapi ayah meminta untuk menunggu setelah pernikahan Yuli selesai, barulah kami bisa pindah ke rumah mertua.</p>
<p>Tiga tahun lamanya aku tinggal bersama mertua, dan tiga tahun itu pula hidupku bagai dalam penjara. Bagaimana tidak, jika di antara aku dan mertua banyak perbedaan yang tak bisa dipertemukan. Semakin lama mertua kian menyepelekanku. Kadang bicaranya sangat memukul perasaanku. </p>
<p>Hal seperti ini yang tak aku inginkan Isti mengerti. Aku tak ingin memberi beban pada kehidupan Isti. Toh, walau pada akhirnya bau bangkai yang kusimpan terendus juga, di saat kita makan satu meja bersama mertua. Percecokan pun tak terhindari. &#8220;Jalan pikiran kita berbeda,&#8221; bantahku saat mertua mulai bicara yang tidak-tidak. </p>
<p>&#8220;Apa hanya dengan menjadi pematung kau dapat memberi anakku rumah, mobil!? Mana hasil yang selama ini kau dapatkan! Kau tidak berkaca pada menantuku yang lain. Ingat di sini kau tak membawa apa- apa, kecuali hanya numpang makan dan tidur. Jadi aku tak ingin anakku hidup kekurangan,&#8221; bentak mertua, membuatku kehilangan kontrol.</p>
<p>Kubanting piring dan hidangan yang ada di atas meja. Semuanya berantakan. Mertua perempuanku berlari keluar memanggil satpam, sedang Isti berteriak histeris bagai kesetanan. </p>
<p>&#8220;Keluar dari rumah ini sekarang juga. Dan jangan melihat anakku lagi. Kau tak pantas menjadi menantuku,&#8221; bentak mertuaku berulang-ulang. </p>
<p>Seketika itu juga aku mulai berkemas-kemas. Untung saja Andin tak tahu peristiwa itu. Aku pamit pada Isti. Ia masih sesenggukan dan bergulingan di atas lantai. Kukecup keningnya yang terakhir kali. &#8220;Maafkan Mas, Isti. Semua ini bukan keinginan Mas.&#8221; </p>
<p>Setelah kejadian itu, kabar tentang Isti dan anakku tak pernah kudapat. Baik itu melalui surat atau telepon. Apalagi telepon rumahnya diganti. Aku benar-benar kehilangan kontak dengan Isti dan anakku, sampai surat cerai dan hak asuh anak jatuh ketanganku tanpa ada proses. Aku menerimanya juga tanpa protes. Walau ayah memaksaku untuk melakukan gugatan, tapi tetap saja aku menerima putusan itu.</p>
<p>&#8220;Mas, dari tadi kok ngelamun,&#8221; tiba saja suara Isti mengagetkanku dari belakang.</p>
<p>&#8220;Ah tidak&#8230; Habis lihat-lihat kebun, ya!?&#8221; ungkapku mengalihkan pembicaraan.</p>
<p>&#8220;Iya. Kebunnya indah sekali, ya,&#8221; timpal Dodi. &#8220;Oh, ya, Mas Yono. Ini, katanya Isti pingin bicara sama mas,&#8221; sambung Dodi lagi sembari tangannya mempersilahkan Isti untuk duduk di kursi depanku. </p>
<p>&#8220;Silahkan. Aku ke kebun dulu, ya,&#8221; pamit Dodi.</p>
<p>&#8220;Mas kelihatan kurus,&#8221; ungkap Isti mendahului pembicaraan.</p>
<p>&#8220;Ah, siapa bilang,&#8221; bantahku.</p>
<p>&#8220;Mas Yon. Yang mengatur ini semua adalah Mas Dodi. Setelah ia mengetahui segala kejadian yang menimpa keluarga kita dulu, ia langsung berinisiatif untuk mengunjungi Mas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh begitu. Aku salut padanya. Mudah-mudahan ia menjadi suami yang baik untukmu, selamanya.&#8221;</p>
<p>Singkatnya, kami pun saling bertukar cerita. Dari semenjak perceraian, sampai Isti mendapatkan seorang duda yang ditinggal mati istrinya, yaitu Dodi. </p>
<p>&#8220;Mas, apa Mas tidak ingin kembali padaku?&#8221; tanya Isti yang seketika mengagetkanku. </p>
<p>&#8220;Tolong. Jangan berpikir tentang itu. Aku tidak ingin kau mengalami sesuatu yang kedua kalinya,&#8221; sanggahku.</p>
<p>&#8220;Tidak Mas. Ini semua permintaan Mas Dodi. Dia akan merelakan aku, jika Mas ada keinginan untuk kembali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Isti, jangan sia-siakan cinta Dodi. Karena ketulusannya, ia bicara seperti itu. Jadi, bahagiakanlah dia. Membahagiakan dia, berarti kau membahagiakan aku. Dan aku akan merasa bahagia, jika kehidupan keluargamu bahagia. Tolong jangan resahkan aku dengan ketidak-bahagianmu, Isti.&#8221; </p>
<p>Kupandangi kelopak matanya yang mulai mengalirkan bak cahaya putih-bening memenuhi pipinya. Kemudian terdengar suara tangis yang tertahan di tenggorakan. Dengan napas yang tersengal-sengal ia berucap, &#8220;Mas, terima kasih. Aku takkan melupakan Mas selamanya.&#8221; </p>
<p>Keesokan harinya, Isti sekeluarga pamit pulang. Sebelum pergi Dodi memelukku erat, seolah menyatakan bahwa kita bersaudara. Sedang Isti tak lagi memperlihatkan wajah masamnya. Apalagi Andin yang selalu saja menggoda kakeknya, terlihat ceria. Sungguh Idul Fitri kali ini benar-benar memberiku kehidupan baru. </p>
<p>Kedatangan kalian bagai malaikat yang diutus Tuhan untuk menunjukkan jalan terangku. Terima kasih Isti, Dodi. Maafkan aku Andin, aku tak bisa menemanimu tidur, jalan-jalan, dan bermain.</p>
<p>&#8220;Selamat jalan Dodi. Tolong jaga Isti dan Andin,&#8221; ungkapku terakhir kali, sebelum mobil melaju.</p>
<p>Yogyakarta, Oktober 2007 </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kesusastraan.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kesusastraan.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kesusastraan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kesusastraan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kesusastraan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kesusastraan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kesusastraan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kesusastraan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kesusastraan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kesusastraan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kesusastraan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kesusastraan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kesusastraan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kesusastraan.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kesusastraan.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kesusastraan.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=25&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/tamu-istimewa-di-hari-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Siit Uncuwing</title>
		<link>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/siit-uncuwing/</link>
		<comments>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/siit-uncuwing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Oct 2007 01:02:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/siit-uncuwing/</guid>
		<description><![CDATA[Kompas Minggu, 21 Oktober 2007 oleh RIEKE DIAH PITALOKA Setiap pagi, bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari. Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi, sungai-sungai keperakan, berkerlip [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=24&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kompas Minggu, 21 Oktober 2007<br />
oleh RIEKE DIAH PITALOKA </p>
<p>Setiap pagi, bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari. </p>
<p>Tatkala cahaya pagi menyentuh bumi, sungai-sungai keperakan, berkerlip menyilaukan. Seperti air sungai yang membelah kota kecil itu. Ada jembatan di atasnya, jalan raya tepatnya. Trotoar menjepit kiri kanan jalan. Dulu, setiap hari jalan itu dilewati Arum dan Nining. Tiap pagi mereka berangkat sekolah berjalan kaki, dua setengah kilometer dari rumah. Sangat pagi. Waktu membuka pintu, kabut berebut kecup pipi mereka. Satu dua kunang-kunang masih bermain di sela langkah. Embun basahi sepatu sekolah. <span id="more-24"></span></p>
<p>Arum paling senang saat melintas di atas jembatan. Di bawah, air mengalir tenang meski dicumbu fajar. Gairah sungai hanya tersirat dari kilau berlian di riak air di antara bebatuan. Sungai itu selalu mengalun perlahan. Tapi semua orang tahu, sungai itu juga bisa mendidih. Beberapa kali ada penduduk hanyut. Sebab air tanpa beri tanda bergulung-gulung dari arah hulu, menggerus apa saja. Itu bisa terjadi meski di siang terik. Kalau sudah begitu orang-orang di tepi sungai, orang-orang di atas jembatan akan berteriak, &#8220;caah caah caah!&#8221; </p>
<p>September. </p>
<p>Tak ada yang berubah dari kota kecil itu. Pada bulan yang sama, tiap tahun, langit kadang biru, kadang kelabu. Hujan malas berkunjung. Paling seminggu sekali. Itu pun bila awan sudah terlalu letih menggendong air. Air yang dicurahkan langit sudah pasti akan susuri sungai itu. Bertahun-tahun selalu begitu. Bahkan saat Arum dan Nining tak lagi melintas di jembatan yang sama. Tak ada yang beda. Rumah kedua gadis itu yang berubah. Ada resah menggayut di tiap hati penghuninya. Tak ada lagi berita dari Nining. Surat terakhir dikirim empat bulan lalu. Ada fotonya, lebih kurus dibanding saat ia tinggalkan rumah. Bayang hitam di bawah mata menggurat keletihan di wajah. Namun ia tetap berusaha tersenyum. </p>
<p>Kepergian Nining memang mengubah banyak hal. Rumah tak lagi setengah bilik, semua diganti tembok. Cat tak lagi kusam. Lantai semen sudah ditambal keramik. Seng yang dulu berisik dan bocor kala hujan, diganti genting Jatiwangi. Pagar tak lagi pohon teh-tehan, akarnya direnggut lalu diganti pondasi beton. Dahan dan batangnya dari besi tempa. Memang masih ada sedikit daun-daun yang lingkari pagar. Tapi lagi-lagi terbuat dari besi tempa, meski warnanya juga hijau. </p>
<p>Masih terpatri dalam ingatan Arum peristiwa yang menuntun Nining tinggalkan rumah. Abah tergolek lemah di dipan ruang tengah. Sudah seminggu tak mampu bangun. Untuk balikkan badan pun harus dibantu ambu. Saat itu seisi rumah ketakutan, apalagi waktu seekor burung berkicau di pucuk daun kersen, halaman depan. Orang-orang menyebutnya siit uncuwing. </p>
<p>Suara siit uncuwing terus menggigit hati siapa saja yang mendengar. </p>
<p>Tak akan berhenti sampai kematian menyusup ke setiap liang angin. </p>
<p>Menyusup ke setiap inci pori-pori kusen jendela dan pintu. </p>
<p>Siit uncuwing pembawa kabar duka, begitu kepercayaan Enin. Maka perempuan tua itu sibuk kibas-kibaskan sapu lidi. </p>
<p>&#8220;Sieuh, sieuh, halig siah, pergi sana, pergi!&#8221; </p>
<p>Kali ini Enin melempari dengan kerikil. </p>
<p>&#8220;Belum waktunya anakku kau jemput. Sieuh, sieuh, ka sabrang ka Palembang! Saguru saelmu teu meunang ganggu!&#8221; </p>
<p>Tetap saja burung itu tak mau pergi. Malah tampak riang. Lompat dari satu dahan ke dahan lain. </p>
<p>&#8220;Arum, Nining! Bantu Enin. Naik sana ke pohon kersen!&#8221; perintah Ambu, panik. </p>
<p>Siit uncuwing kepakkan sayap sedetik sebelum Nining menyambarnya. Ia terbang menuju lembayung. </p>
<p>Entah kebetulan atau bukan, esoknya Abah mulai bisa duduk. Enin peluk buah hatinya dengan haru. </p>
<p>&#8220;Komar, cepat sehat, Komar.&#8221; </p>
<p>Ambu di pintu dapur usap sebulir bening yang meluncur dari sudut mata. Ada seurai doa di sudut bibir Ambu dalam lengkung yang mendamaikan Arum dan Nining. </p>
<p>Tapi, tiga hari kemudian siit uncuwing datang lagi. Mula-mula hinggap di pohon arumanis tetangga sebelah. Waktu melihat Ambu dengan sapu lidinya, siit uncuwing menikam rumpun bambu di ujung jalan. Lalu sorenya siit uncuwing kembali. Tak menapak di mana pun. Berputar-putar mengelilingi atap rumah. Menjerit memanggil kematian. Lepas magrib burung itu menjauh dengan senyap. Tapi tangis ledakkan rumah. Sebab siit uncuwing pergi sambil membawa abah. </p>
<p>Enin dan Ambu berhari-hari, bahkan hingga tahlil seribu hari, tetap salahkan siit uncuwing atas duka yang menancap di hati mereka. Sebetulnya Arum dan Nining tak sependapat dengan dua perempuan itu, terutama Nining. Baginya penyebab kematian Abah bukan siit uncuwing, tapi karena sakit. Sakit, tapi tak diobati. Tak diobati karena mereka tak punya uang, walau sekadar untuk membayar Mantri Abas. Mantri yang menerima bayaran sukarela. Sekadar sukarela pun mereka tak sanggup. </p>
<p>Pendapat itu tentu tak disampaikan Nining pada Enin dan Ambu. Ia hanya katakan pada Arum. Dibisikkan saat para pelayat satu-satu tinggalkan rumah. </p>
<p>&#8220;Teteh sakit hati, Rum. Kita musti bisa berubah.&#8221; </p>
<p>Kata-katanya pelan sentuh telinga, namun tegas sebagai janji. Pasti. </p>
<p>Arum percaya Nining. Tapi Enin tidak sepakat, terlebih Ambu. </p>
<p>&#8220;Jangan pergi, anaking. Apa kamu lupa banyak yang tak bisa pulang? Kalaupun pulang tanpa daksa. Malah ada yang sudah tak bernyawa.&#8221; </p>
<p>&#8220;Geulis,&#8221; Enin menambahkan sambil mengunyah sirih dan pinang, &#8220;biar susah lebih enak di kampung sorangan. Geulis, incu enin, cari kerja di sini saja. Jadi buruh tani, atau melamar ke pabrik dodol di Ciledug, ke pabrik tenun dekat kerkhoff, atau ke pabrik coklat jalan Cimanuk, atau jadi pelayan toko di Pengkolan.&#8221; </p>
<p>Nining tahu, kerja dengan ijazah SMP dan rapor sampai kelas satu SMA tak akan berarti. Gaji yang diterima hanya akan cukup untuk makan sebulan. Itu juga belum tentu cukup. </p>
<p>Sepuluh hari Nining baru bisa yakinkan Enin dan Ambu. Bahkan Ambu rela menjual sawah peninggalan Abah untuk membayar penyalur dan surat-surat keberangkatan, sekaligus ongkos ke Bandung. </p>
<p>Lima bulan pertama Nining tak terima gaji. Katanya harus diserahkan pada agen sebagai ganti biaya perjalanan. Tengah tahun baru bisa kirim uang. Tahun kedua Nining pulang untuk renovasi rumah dan membeli tiga petak sawah. Pengganti sawah Abah, katanya. Tiga bulan kemudian berangkat lagi setelah membantu Ambu buka warung sembako di samping rumah. </p>
<p>&#8220;Teteh jangan pergi lagi, teh. Apa lagi yang teteh cari?&#8221; </p>
<p>&#8220;Teteh pengin kamu jadi dokteranda, Rum. Biar teteh yang cari duit, pokoknya kamu belajar yang rajin.&#8221; </p>
<p>&#8220;Mendingan Arum cuma tamat SMA daripada teteh pergi lagi.&#8221; </p>
<p>Entah mengapa kali ini Arum yang tak setuju Nining pergi. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa menahan tekad itu. </p>
<p>Selama setahun, sebulan sekali Nining masih rajin beri kabar. Begitu pula dengan kiriman uang. Tapi tahun berikutnya bukan hanya uang yang tak dikirim. Yang lebih mencemaskan tak ada kabar berita darinya. </p>
<p>Awal Mei. </p>
<p>Sepucuk surat tiba di beranda. Arum membaca keras-keras supaya bisa didengar Enin dan Ambu. </p>
<p>&#8220;Arum, bilang sama Enin dan Ambu, Insya Allah September teteh pulang. Teteh maunya bisa munggah sama-sama. Teteh mau lebaran di rumah. Teteh kangen sama kalian bertiga. Doakan teteh supaya bisa pulang.&#8221; </p>
<p>Itu kabar terakhir yang mereka terima. Surat terakhir. Lecek. Sebab dibaca berulang-ulang, sampai Arum hafal isinya. </p>
<p>September berjingkat tinggalkan kalender. Oktober siap menyambut. Tapi tetap hambar. Huruf seakan mati tak tergores dalam secuil kertas sekalipun. Arum sudah mencoba hubungi agen yang berangkatkan Nining. Petugas yang menemui hanya menjawab, &#8220;Nanti akan kami beri tahu, kalau sudah tahu keberadaannya. Kalau sudah tahu!&#8221; </p>
<p>Hanya itu yang bisa jadi pengharapan. Surat Arum untuk Nining tak pernah berbalas. Tak ada alamat lain yang bisa ditelusuri. Khawatir menusuk kepala. Cemas menjadi bola besar, menggerus perasaan. Apalagi sejak dua hari terakhir Ramadhan siit uncuwing kembali menjejak pucuk kersen di halaman depan. </p>
<p>&#8220;Awas, indit, ka ditu, ka ditu, sieuh, sieuh!&#8221; </p>
<p>Ambu tergopoh, Enin menyusul di belakangnya. </p>
<p>&#8220;Ka sabrang ka Palembang, sieuh, sieuh!&#8221; teriak keduanya bersahutan. </p>
<p>&#8220;Ka sabrang ka Palembang, saguru saelmu teu meunang ganggu!&#8221; </p>
<p>Kali ini Arum langsung memanjat pohon kersen, tanpa tunggu perintah Ambu. Ketika siit uncuwing terbang, Arum setengah melompat turun dari pohon. Tak sekejap mata ia biarkan pandangan lepas dari burung itu. Arum mengejarnya, berlari. Tanpa sadar Arum sudah jauh tinggalkan rumah. Berlari menuju jembatan di atas sungai, sungai yang membelah kota kecil itu. Terus mengejar, bahkan ketika burung itu terbang di atas jalan setapak di pinggir jembatan. Menuju sungai. </p>
<p>Ya, siit uncuwing menuju sungai. Burung itu hinggap di batu besar di tengah sungai. </p>
<p>Arum mengendap. </p>
<p>Tinggal sejengkal dari siit uncuwing ketika orang-orang di atas jembatan berteriak, &#8220;caah!&#8221; Caah!Caah!&#8221; </p>
<p>Arum lompat berusaha menangkap siit uncuwing. Namun badannya limbung. Semua buram. Sesak menghimpit dada. Arum hampir tak mampu bertahan saat sayup seiris suara memberi kekuatan, &#8220;Arum, ka dieu, ulurkan tanganmu.&#8221; </p>
<p>Arum terkejut. Arum tahu pasti, itu suara Nining. Seolah mendapat tenaga, Arum berenang ke arah bayangan di tepi sungai. </p>
<p>&#8220;Hayu pulang, geulis.&#8221; </p>
<p>Sekali lagi Arum mendengar suara Nining. Arum berhasil genggam tangan Nining, dan semua jadi gelap. </p>
<p>&#8220;Teteh, teteh!&#8221; teriak Arum saat pertama kali membuka mata. </p>
<p>Tapi Nining tak ada, padahal Arum yakin Nining yang menolongnya. Nining yang memapah mengantar pulang. Arum terobos setiap ruang di rumah itu. Tetap saja, Nining tak ada. Hanya ada Anin dan Ambu yang sedang menangis. </p>
<p>Arum lari ke luar. </p>
<p>Di langit ada bulan sepotong. </p>
<p>Di langit ada tiga belas siit uncuwing tanpa suara membawa bingkisan dari negeri berpasir: sekotak peti mati. Di dalamnya ada perempuan dengan bayang hitam di bawah mata dan lebam di sekujur tubuh. Tetap berusaha tersenyum. </p>
<p>Di surau-surau takbir pertama berkumandang… </p>
<p>Depok, 160907</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kesusastraan.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kesusastraan.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kesusastraan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kesusastraan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kesusastraan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kesusastraan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kesusastraan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kesusastraan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kesusastraan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kesusastraan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kesusastraan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kesusastraan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kesusastraan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kesusastraan.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kesusastraan.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kesusastraan.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=24&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/21/siit-uncuwing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Atheis</title>
		<link>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/atheis/</link>
		<comments>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/atheis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2007 06:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/atheis/</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Pinggir Majalah Tempo Edisi. 23/XXXIIIIII/30 Juli &#8211; 05 Agustus 2007 Agama akan tetap bertahan dalam hidup manusia, tapi layakkah ia dibela? Christopher Hitchens baru-baru ini menarik perhatian ketika bukunya terbit dengan judul God Is Not Great: Religion Poisons Everything. Penulis Inggris ini—yang yakin bahwa Tuhan tidak akbar dan bahwa agama adalah racun—tak bersuara sendirian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=23&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Catatan Pinggir</p>
<p>Majalah Tempo Edisi. 23/XXXIIIIII/30 Juli &#8211; 05 Agustus 2007</p>
<p>Agama akan tetap bertahan dalam hidup manusia, tapi layakkah ia dibela?</p>
<p>Christopher Hitchens baru-baru ini menarik perhatian ketika bukunya terbit dengan judul God Is Not Great: Religion Poisons Everything. Penulis Inggris ini—yang yakin bahwa Tuhan tidak akbar dan bahwa agama adalah racun—tak bersuara sendirian di awal abad ke-21 ini. Di tahun 2004 terbit The End of Faith, oleh Sam Harris, yang tahun lalu mempertegas posisinya dengan menyerang agama Kristen dalam Letter to a Christian Nation. Yang juga terkenal adalah karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi, The God Delusion, yang mengutip satu kalimat pengarang lain: ”Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut<br />
gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.” <span id="more-23"></span></p>
<p>Saya belum khatam membaca buku-buku itu, tapi saya telah merasa setengah<br />
terusik, tersinggung, berdebar-debar, terangsang berpikir, tapi juga<br />
gembira. Baiklah saya jelaskan kenapa saya gembira: kini datang beberapa<br />
orang atheis yang sangat fasih dengan argumen yang seperti pisau bedah.<br />
Dengan analisa yang tajam mereka menyerang semua agama, tanpa kecuali,<br />
di zaman ketika iman dikibarkan dengan rasa ketakutan, dan rasa<br />
ketakutan dengan segera diubah jadi kebencian. Dunia tak bertambah damai<br />
karenanya. Maka siapa tahu memang dunia menantikan Hitchens, Harris, dan<br />
Dawkins. Siapa tahu para atheis inilah yang akan membuat kalangan agama<br />
mengalihkan fokus mereka dan kemudian berhenti bermusuhan.</p>
<p>Apalagi ada benarnya ketika Christopher Hitchens bicara tentang iman dan<br />
rasa aman. Sepekan sebelum 11 September 2001, hari yang bersejarah itu,<br />
ia ditanya dalam sebuah wawancara radio: ”Bayangkan Anda berada di<br />
sebuah kota asing di waktu senjakala, dan sejumlah besar orang datang ke<br />
arah Anda. Akan lebih merasa amankah Anda, atau justru merasa kurang<br />
aman, bila Anda tahu orang-orang itu baru selesai berkumpul untuk berdoa?”</p>
<p>Hitchens, yang pernah berada di Belfast, Beirut, Bombay, Beograd,<br />
Bethlehem, dan Baghdad, menjawab, ”Kurang aman.”</p>
<p>Ia tak bicara dari khayal. Ia telah menyaksikan permusuhan antara orang<br />
Katolik dan Protestan di Ulster; Islam dan Kristen di Beirut dan<br />
Bethlehem; orang Katolik Kroasia dan orang Gereja Ortodoks Serbia dan<br />
orang Islam di bekas Yugoslavia; orang Sunni dan Syiah di Baghdad.<br />
Beribu-ribu orang tewas dan cacat dan telantar.</p>
<p>Maka bagi Hitchens, agama adalah ”sebuah pengganda besar”, an enormous<br />
multiplier, ”kecurigaan dan kebencian antarpuak”.</p>
<p>Tapi menarik bahwa Hitchens tak menyatakan agama sebagai sumber sikap<br />
negatif itu.</p>
<p>Dalam hal ini ia berbeda dari Sam Harris. Bagi Harris, konflik antara<br />
umat Katolik dan Protestan yang berdarah di Irlandia—yang bermula baru<br />
di abad ke-17—bersumber pada teks Alkitab, tak ada hubungannya dengan<br />
politik pertanahan di wilayah kekuasaan Inggris masa itu. Harris tak<br />
melihat endapan sejarah dalam tiap tafsir atas akidah—dan dalam hal ini<br />
ia mirip seorang fundamentalis Kristen atau Islam. Pandangannya yang<br />
menampik sejarah akan bisa mengatakan bahwa doktrin Quran itulah yang<br />
membuat sejumlah orang menghancurkan Menara Kembar New York dan membunuh<br />
hampir 3.000 manusia pada 11 September 2001. Harris tak akan melihat<br />
bahwa hari itu ”Islam” identik dengan amarah karena ada kepahitan<br />
kolonialisme di Timur Tengah, Afrika, dan Asia, dan kekalahan dunia Arab<br />
di Palestina.</p>
<p>Dari sini, memang ada benarnya apologi yang terkenal itu: bukan agamanya<br />
yang salah, melainkan manusianya.</p>
<p>Tapi persoalan tak selesai di situ. Orang-orang atheis semacam Hitchens<br />
akan bertanya: Jika faktor manusia yang menyebabkan keburukan tumbuh<br />
dalam suatu umat, berarti tak ada peran agama dalam memperbaiki umat<br />
itu. Jika demikian, jika akidah ditentukan oleh sejarah, dan bukan<br />
sebaliknya, apa guna agama bagi perbaikan dunia?</p>
<p>Mungkin sebuah nol. Bahkan melihat begitu banyak pembunuhan dilakukan<br />
atas nama agama hari-hari ini, orang memang mudah sampai kepada atheisme<br />
Hitchens dan kesimpulannya: agama meracuni segala hal.</p>
<p>Tapi kita dapat juga sampai pada kesimpulan yang lain: jangan-jangan<br />
agama memang tak punya peran bagi perbaikan dunia. Perannya memang bisa<br />
lain sama sekali—terutama bila dilihat dari awal lahirnya agama-agama.</p>
<p>Dalam ceramahnya yang diselenggarakan oleh MUIS (Majlis Ugama Islam<br />
Singapura) bulan Juni yang lalu, Karen Armstrong mengatakan sesuatu yang<br />
tak lazim: agama lahir dari sikap jeri (recoil) atas kekerasan. Juga<br />
Islam, yang kini tak urung dihubungkan dengan bom bunuh diri, konflik<br />
berdarah di Irak, Afganistan, dan Pakistan. Agama ini hadir sebagai<br />
pembangun perdamaian di sekitar Mekah, di tengah suku-suku Arab yang<br />
saling galak.</p>
<p>Tapi mungkin juga Karen Armstrong bisa menelusurinya lebih jauh: jika<br />
agama memang lahir dari rasa jeri akan kekerasan, rasa jeri itu bertaut<br />
dengan kesadaran akan ketakberdayaan. Agama sebab itu tak merasa kuasa<br />
untuk memperbaiki dunia; ia justru berada di kancah yang tersisih,<br />
menemani mereka yang daif—sebuah posisi yang kian tampak dalam keadaan<br />
manusia teraniaya.</p>
<p>Tapi kini, dalam mencoba menyaingi gagahnya modernitas, agama cenderung<br />
melupakan ”empati asali”-nya sendiri. Orang-orang Islam merayakan Hijrah<br />
bukan dengan rasa setia kawan dan bela rasa kepada mereka yang diteror,<br />
walaupun Hijrah bermula dari nasib sekelompok minoritas yang<br />
dikejar-kejar. Orang merayakan Hijrah lebih sebagai kemenangan. Mungkin<br />
dengan tendensi itu, pengalaman kedaifan sendiri terlupa: pekan lalu<br />
atas nama ”Islam” orang-orang mengancam para biarawati Karmel yang<br />
hendak berkumpul untuk berdoa di lembah Cikanyere di wilayah Cianjur.</p>
<p>Dalam keadaan lupa kepada yang tak berdaya itulah agama bisa jadi tenaga<br />
yang dahsyat. Tapi ia juga bisa jadi tenaga yang tak tahu batas. Di saat<br />
seperti itu, bukankah para atheis perlu datang dan bersuara?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kesusastraan.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kesusastraan.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kesusastraan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kesusastraan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kesusastraan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kesusastraan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kesusastraan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kesusastraan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kesusastraan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kesusastraan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kesusastraan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kesusastraan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kesusastraan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kesusastraan.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kesusastraan.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kesusastraan.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=23&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/atheis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seks, Sastra, dan Sastra Arab</title>
		<link>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/seks-sastra-dan-sastra-arab/</link>
		<comments>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/seks-sastra-dan-sastra-arab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2007 06:33:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/seks-sastra-dan-sastra-arab/</guid>
		<description><![CDATA[Ulil Abshar Abdalla ACI &#8211; Kenapa banyak orang takut pada seks? Mungkin Goenawan Mohamad perlu menerbitkan kembali esei lamanya tentang kedudukan seks dalam sastra kita sehubungan dengan pergerakan waktu dan perbincangan saat ini. Saya bisa memahami &#8220;histeria&#8221; sebagian masyarakat Amerika setelah menonton &#8220;The Inconvenient Truth&#8221;, buah gagasan Al Gore itu. Tapi saya tak bisa memahami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=22&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ulil Abshar Abdalla</p>
<p>ACI &#8211; Kenapa banyak orang takut pada seks? Mungkin Goenawan Mohamad perlu menerbitkan kembali esei lamanya tentang kedudukan seks dalam sastra kita sehubungan dengan pergerakan waktu dan perbincangan saat ini.</p>
<p>Saya bisa memahami &#8220;histeria&#8221; sebagian masyarakat Amerika setelah menonton &#8220;The Inconvenient Truth&#8221;, buah gagasan Al Gore itu. Tapi saya tak bisa memahami kenapa orang- orang harus histeris terhadap seks, erotisme, dan tubuh perempuan (juga, tentu, laki-laki). <span id="more-22"></span></p>
<p>Apakah sebetulnya yang dikehendaki oleh orang-orang macam Taufiq Ismail, kalau kita mau mencoba memberinya semacam &#8220;hak keraguan&#8221; (benefit of the doubt)? Apakah masalah seks dan erotisme tak boleh masuk sama sekali dalam dunia penciptaan kreatif? Menurut saya,<br />
menyanitasi dunia kreatif dari seks hanyalah sejenis kegilaan. Sebab, Kitab Suci pun tak mampu melakukan hal itu. Selalu ada bagian-bagian dalam Kitab Suci mana pun yang memuat soal kejenisan dan rangsangan jenis.</p>
<p>Sayang sekali, Taufiq tidak pernah tumbuh dalam tradisi pengkajian sastra Arab. Salah satu paradoks yang tidak mungkin atau sulit dihindari oleh para sarjana Qur&#8217;an adalah hal berikut ini. Selama ini umat Islam percaya bahwa Qur&#8217;an adalah puncak karya sastra Arab. Tetapi, &#8220;keyakinan&#8221; ini membawa masalahnya sendiri, dan hal itu sangat disadari oleh sarjana Qur&#8217;an sejak awal. Jika Qur&#8217;an adalah puncak penciptaan kreatif dalam sastra Arab klasik, tentu tidak mungkin memahami hal itu tanpa memahami perkembangan sastra Arab secara keseluruhan pada saat itu.</p>
<p>Bukankah kita tak bisa mengatakan bahwa karya-karya Rendra adalah salah satu contoh terbaik dalam perkembangan sastra Indonesia modern tanpa memahami dengan baik kebun sastra Indonesia secara keseluruhan? Sebab, sesuatu dapat dikatakan &#8220;baik&#8221; atau &#8220;buruk&#8221; atau &#8220;puncak&#8221; tentu dalam hubungannya dengan suatu konteks tertentu. Tidak ada, atau supaya<br />
tak terlalu sok yakin, jarang ada sesuatu dapat dikatakan baik tanpa kaitan atau perbandingan dengan hal lain.</p>
<p>Begitulah halnya dengan Qur&#8217;an. Mengatakan bahwa Qur&#8217;an adalah puncak karya sastra Arab haruslah mengandaikan pengetahuan yang cukup tentang kebun sastra Arab, terutama sastra &#8220;jahiliyah&#8221; (sebutan yang jelas rentan pada salah paham). Itulah sebabnya, kajian atas sastra Arab pra-Islam (atau &#8220;jahiliyah&#8221;) sangat berkembang pesat dalam Islam, hingga saat ini. Tentu, sastra Arab pra-Islam itu dipelajari bukan demi tujuan pada dirinya sendiri, tetapi untuk<br />
&#8220;membuktikan&#8221; bahwa, ya benar, Qur&#8217;an memang puncak karya literer.</p>
<p>Tetapi persis di sinilah terjadi paradoks. Kalau kita kaji tafsir-tafsir Qur&#8217;an, terutama yang mengulas Qur&#8217;an dari sudut literer, kita akan menjumpai ratusan syair-syair Arab pra-Islam bertaburan di sana. Dan banyak sekali syair-syair itu yang memuat tema-tema kejenisan dan erotisme. Paradoks ini yang saya rasakan pada waktu di pesantren dulu. Saat saya mempelajari<br />
sebuah karya tafsir, dan tiba-tiba menjumpai sebuah syair pra-Islam yang &#8220;erotik&#8221;, saya bertanya-tanya, bagaimana mungkin &#8220;erotisme&#8221; seperti ini bisa menyelinap kedalam karya tafsir yang dimaksudkan sebagai semacam elusidasi atas firman Tuhan.</p>
<p>Tetapi penafsir Islam tidak bisa menghindar dari paradoks ini. Sebab, tidak ada karya sastra Arab lain yang bisa menjadi latar-belakang untuk menjelaskan mutu literer Qur&#8217;an selain sastra jahiliyah itu. Demikianlah syair-syair Imru&#8217;ul Qais, misalnya, bertaburan dalam karya-karya yang dimaksudkan sebagai elusidasi firman Tuhan. Syair-syair itu banyak memuat unsur-unsur erotisme. Tafsir-tafsir Qur&#8217;an klasik tidak jarang merupakan semacam gelanggang di mana<br />
syair-syair jahiliyah yang tak seluruhnya kongruen dengan &#8220;semangat&#8221; puritan Islam dipamerkan dengan leluasa. Para sarjana Islam tak menganggap masalah ini sebagai sejenis ketidaksenonohan.</p>
<p>Menurut saya, dalam konteks diskursus pemikiran dan kesarjanaan, tema seksualitas lebih leluasa dibahas dan diulas pada masa Islam klasik ketimbang sekarang.</p>
<p>Sekali lagi, kenapa kita takut pada seks? Kepada Taufiq Ismail dan para pengikutnya haruslah dikatakan dengan sejelas-jelasnya, bahwa suatu karya sastra tidak dengan sendirinya menjadi baik karena membahas Tuhan; juga tidak otomatis jelek dan &#8220;picisan&#8221; hanya karena menyinggung soal kejenisan.</p>
<p>Bahkan saya mengatakan, seks adalah &#8220;bahan mentah&#8221; paling menarik dalam sejarah sastra manapun. Masalahnya bukan soal seks atau Tuhan, tetapi bagaimana seorang penulis mengolah tema itu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kesusastraan.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kesusastraan.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kesusastraan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kesusastraan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kesusastraan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kesusastraan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kesusastraan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kesusastraan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kesusastraan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kesusastraan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kesusastraan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kesusastraan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kesusastraan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kesusastraan.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kesusastraan.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kesusastraan.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=22&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/seks-sastra-dan-sastra-arab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Stigmatisasi Sastra Indonesia</title>
		<link>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/stigmatisasi-sastra-indonesia/</link>
		<comments>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/stigmatisasi-sastra-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Oct 2007 06:12:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/stigmatisasi-sastra-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Stigmatisasi sastra Indonesia menjadi “sastra kelamin”, “sastra imperialis”, “sastra kontekstual”, “sastra pedalaman”, “sastra Islami”, “sastra kiri”, “sastra pop” dan lain sebagainya, perlukah? Pertanyaan ini agaknya cukup penting untuk didiskusikan karena faktanya tidak membuat sastra Indonesia lebih akrab dengan masyarakat Indonesia. Mungkin saja pihak-pihak yang melakukan stigmatisasi sastra Indonesia berkepentingan positif. Misalnya, ingin membuat sastra Indonesia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=21&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Stigmatisasi sastra Indonesia menjadi “sastra kelamin”, “sastra imperialis”, “sastra kontekstual”, “sastra pedalaman”, “sastra Islami”, “sastra kiri”, “sastra pop” dan lain sebagainya, perlukah? Pertanyaan ini agaknya cukup penting untuk didiskusikan karena faktanya tidak membuat sastra Indonesia lebih akrab dengan masyarakat Indonesia. Mungkin saja pihak-pihak yang melakukan stigmatisasi sastra Indonesia berkepentingan positif. Misalnya, ingin membuat sastra Indonesia lebih akrab dengan kelompok masyarakat tertentu. Kepentingan demikian mungkin menyembunyikan tujuan tertentu, seperti ingin mengajak kelompok tertentu bersedia memberikan apresiasi terhadap sastra secara lebih proporsional. Atau,ada tujuan lain seperti ingin menempatkan sastra<br />
Indonesia (yang telah mengalami stigmatisasi) tidak lagi terasing dari kelompok masyarakat mana pun karena faktanya yang disebut sebagai masyarakat Indonesia juga telah mengalami stigmatisasi-stigmatisasi. Tujuan ini bisa juga dikaitkan dengan keinginan untuk membangkitkan minat kelompok masyarakat tertentu terhadap sastra. Jika stigmatisasi sastra Indonesia<br />
memang bertujuan seperti yang terpapar di atas,hal itu layak dihargai.Misalnya,jika sastra Indonesia sudah diberi stigma sebagai “sastra Islami”,kemudian kaum muslim ramai-ramai mengapresiasi dan juga ramai-ramai memproduksi karya sastra sehingga pada akhirnya tidak ada lagi fenomena keterasingan sastra di tengah masyarakat kita sebagaimana yang selama ini berlangsung. <span id="more-21"></span><br />
Kasus larisnya novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman mungkin bisa dikatakan<br />
sebagai hasil stigmatisasi sastra Indonesia sebagai “sastra Islami”, jika<br />
merujuk mayoritas pembacanya yang terdiri atas kalangan berjilbab.Kasus ini bisa<br />
menjadi fenomena yang cukup mendukung upaya mengembangkan apresiasi sastra<br />
Indonesia manakala didukung mutu.Artinya,sebuah novel bercitra sebagai “sastra<br />
Islami”bisa laris bukan semata-mata berkat promosi gencar dan dukungan apresiasi<br />
yang bersifat fanatisme maupun sentimentalisme religius kelompok tertentu yang<br />
kebetulan mayoritas di Indonesia. ***<br />
Data empiris banyak membuktikan bahwa stigmatisasi sastra Indonesia (baca:<br />
sastra berbahasa Indonesia) tidak banyak mendukung perkembangan apresiasi dan<br />
produktivitas sastra Indonesia manakala hanya bertujuan untuk menimbulkan<br />
fanatisme dan sentimentalisme yang berkaitan dengan agama, ideologi,dan ras<br />
tertentu. Misalnya, sebelum dan selama Orde Baru, betapa sastra Indonesia<br />
mengalami stigmatisasi menjadi “sastra kiri”dan “sastra kanan” yang ternyata<br />
justru menyeret sastra menjadi bagian dari propaganda politik yang<br />
ujung-ujungnya merugikan sastra itu sendiri.<br />
Betapa banyak buku sastra yang dibakar atau dibredel. Betapa banyak sastrawan<br />
yang terpenjara secara fisik maupun psikologis dan terbunuh karakternya serta<br />
terpinggirkan dari media publikasi. Data empiris tersebut sampai sekarang masih<br />
menyisakan trauma yang mendalam. Trauma itu kemudian melahirkan generasi yang<br />
terasing terhadap karya sastra bangsa sendiri.<br />
Di tingkat akar rumput, sampai sekarang masih berlangsung antipati terhadap<br />
karya-karya sastra yang ditulis oleh kelompok sastrawan yang dulunya dianggap<br />
sebagai musuh. Sampai sekarang masih banyak orangtua yang melarang anak-anaknya<br />
membaca novel-novel yang ditulis oleh sastrawan tertentu yang dulunya menjadi<br />
musuh politiknya meskipun novelnovel tersebut sangat bagus dan bahkan masuk<br />
kategori “sastra dunia” karena telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di<br />
banyak negara.<br />
Mengingat fakta buruk tersebut,jika kini masih ada upaya stigmatisasi sastra<br />
Indonesia layak dicemaskan karena akibatnya bisa jadi tidak akan menguntungkan<br />
generasi berikutnya. Apa pun latar belakang agama-ras-ideologinya,kita<br />
selayaknya berharap generasi berikutnya akan menjadi generasi yang mampu<br />
memberikan apresiasi tinggi terhadap sastra sebagai produk peradaban manusia<br />
yang memang selayaknya diapresiasi.<br />
Kita juga layak berharap dalam dunia yang telah mengglobal ini tidak ada lagi<br />
anak-anak yang takut membaca sastra karena kebetulan penulisnya berbeda agama,<br />
berbeda aliran politik maupun berbeda ras. Rasanya sangat konyol jika masih ada<br />
sementara pihak yang mendorong lahirnya generasi yang alergi terhadap karya<br />
sastra tertentu karena hal ini tidak menguntungkan siapa pun.<br />
Sebaik-baiknya generasi di dunia global ini tentu generasi yang membuka matanya<br />
lebar-lebar agar tahu banyak hal sehingga memiliki wawasan luas, tapi tetap<br />
teguh pada keimanan dan kebangsaannya daripada generasi yang sengaja menutup<br />
mata atau memakai kacamata minus sehingga tidak dapat mengetahui perkembangan<br />
kebudayaan yang berlangsung di sekitarnya. ***<br />
Berkaitan dengan stigmatisasi sastra Indonesia menjadi sastra-sastra tertentu<br />
yang ujung-ujungnya bisa merugikan perkembangan apresiasi terhadap sastra,<br />
sebenarnya ada masalah besar yang lebih layak diurus agar tidak menjadi kendala<br />
abadi bagi upaya penghapusan citra keterasingan sastra kita di tengah masyarakat<br />
kita sendiri,yakni masalah keadilan dan proporsionalitas publikasi atau<br />
sosialisasi sastra.<br />
Kita layak mengajak semua pihak (terutama pemegang otoritas media) untuk<br />
sama-sama menghormati kualitas sebagai satu-satunya hal yang harus diutamakan<br />
dalam urusan publikasi atau sosialisasi sastra Indonesia yang ditulis oleh siapa<br />
pun. Misalnya, rubrik sastra yang terbuka di koran-koran atau majalah sastra<br />
seperti Horison jangan sampai menjadi media yang cenderung berbau sektarian,<br />
apalagi kolusi dan nepotisme.Jangan biarkan rubrik sastra yang makin sempit atau<br />
majalah Horison yang nasibnya mirip bonsai, tidak lagi mengutamakan kualitas<br />
karya sastra, melainkan mengutamakan sastrawansastrawan tertentu saja.<br />
Untuk menegakkan keadilan dan proporsionalitas media publikasi sastra memang<br />
tidak mudah, ketika banyak sastrawan produktif berada di dalamnya dan ikut<br />
memegang otoritas. Dan belakangan ini,semakin banyak sastrawan yang mengeluhkan<br />
ketidakadilan dan ketidakproporsionalan media publikasi sastra kita. Ada yang<br />
mengeluh bahwa koran-koran tertentu telah menjadi media arisan antarsastrawan<br />
tertentu sehingga sastrawan yang tidak bergabung tidak mungkin bisa<br />
terpublikasikan karyanya.<br />
Ada juga yang mengeluh, majalah Horison bukan lagi menjadi barometer<br />
perkembangan mutu sastra Indonesia karena banyak sastrawan Indonesia yang tidak<br />
pernah mengirimkan karyanya untuk dipublikasikannya. Ada juga yang mengeluh<br />
betapa sejumlah penerbit hanya bersedia menerbitkan karya sastra yang memiliki<br />
tema-tema tertentu dan yang ditulis oleh sastrawan-sastrawan tertentu.<br />
Keluhan-keluhan tersebut bisa jadi sangat cengeng, tapi ada baiknya menjadi<br />
alarm untuk meningkatkan keadilan dan proporsionalitas media publikasi sastra<br />
kita. Kalau ternyata keluhankeluhan tersebut ada benarnya, sebenarnya media<br />
publikasi sastra kita juga telah dengan terbuka melakukan stigmatisasi sastra<br />
Indonesia.<br />
Dan jika ternyata tingkat apresiasi sastra Indonesia cenderung selalu sangat<br />
rendah dibandingkan dengan perkembangan populasi penduduk Indonesia, misalnya<br />
hampir mayoritas buku sastra kurang laku, mungkin itulah akibat yang<br />
ditimbulkannya.Sayang sekali.(*)<br />
Maria Magdalena Bhoernomo Pesastra dan penikmat sastra</p>
<p>Minggu, 23/09/2007</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kesusastraan.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kesusastraan.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kesusastraan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kesusastraan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kesusastraan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kesusastraan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kesusastraan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kesusastraan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kesusastraan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kesusastraan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kesusastraan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kesusastraan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kesusastraan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kesusastraan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kesusastraan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kesusastraan.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=21&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/20/stigmatisasi-sastra-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>URGEN</title>
		<link>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/19/urgen/</link>
		<comments>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/19/urgen/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Oct 2007 05:57:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/19/urgen/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Alfons Taryadi Dari tumpukan surat di meja saya, biasanya surat yang bagian depan sampulnya bertanda kata urgen saya buka paling dahulu. Sebab, bukankah urgen berarti mendesak dan penting? Dalam Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, Jus Badudu (2003) mengartikan urgen &#8211; &#8220;sangat penting dan sangat mendesak sehingga diperlukan tindakan segera atau pelaksanaannya&#8221;. Dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=20&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Alfons Taryadi</p>
<p>Dari tumpukan surat di meja saya, biasanya surat yang bagian depan sampulnya bertanda kata urgen saya buka paling dahulu. Sebab, bukankah urgen berarti mendesak dan penting? Dalam Kamus Kata-kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia, Jus Badudu (2003) mengartikan urgen &#8211; &#8220;sangat penting dan sangat mendesak sehingga diperlukan tindakan segera atau pelaksanaannya&#8221;. <span id="more-20"></span></p>
<p>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III urgen &#8211; &#8220;mendesak sekali<br />
pelaksanaannya, sangat penting&#8221;. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia, Eko<br />
Endarmoko (2007) menyinonimkan urgen dengan genting, kritis, krusial,<br />
penting. Farida Soemargono dan Winarsih Arifin (1991) pada<br />
Dictionnaire Francais Indonesien, Kamus Perancis Indonesia juga<br />
menyebut urgent berarti &#8220;penting (harus lekas dikerjakan)&#8221;. Dalam<br />
Kamus Inggris Indonesia (1995), John M Echols dan Hassan Shadily pun<br />
menerjemahkan urgent need menjadi &#8220;kebutuhan penting&#8221;.</p>
<p>Namun, Wayne B Kraus bersama Johanes Manhitu dan Isanuddin Siregar<br />
(2005), dalam Kamus Ringkas Inggris-Indonesia TruAlfa, mengartikan<br />
urgent &#8211; &#8220;hangat, urgen, darurat, sangat mendesak, memerlukan tindakan<br />
segera&#8221;. Dalam Kamus Belanda-Indonesia susunan Susi Moeimam dan Hein<br />
Steinhauer (2005), arti urgent adalah yang mendesak. Menurut The New<br />
Oxford Dictionary of English (1998), urgent berarti &#8220;menuntut tindakan<br />
atau perhatian segera&#8221;, atau &#8220;dilakukan sebagai tanggapan terhadap<br />
situasi yang menuntut tindakan segera&#8221;. Dalam The New International<br />
Webster&#8217;s Comprehensive Dictionary of the English Language (2003),<br />
urgent berarti &#8220;memerlukan perhatian tepat waktu&#8221;.</p>
<p>Sementara itu, Ram Charan bersama Geri Willigan dalam buku Know How<br />
yang terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Gramedia<br />
Pustaka Utama (2007) antara lain menulis: &#8220;Bila memilih prioritas,<br />
Anda harus memilih di antara empat prioritas: apa yang penting, apa<br />
yang mendesak (urgent), apa yang jangka panjang versus jangka pendek,<br />
dan apa yang realistis dan versus visioner&#8221;. Di sini jelas pengertian<br />
penting dan urgen tidak sama.</p>
<p>Menurut Stephen R Covey (1990) dalam The 7 Habits of Highly Effective<br />
People, dua faktor yang mendefinisikan suatu aktivitas ialah urgen dan<br />
penting. Urgen berarti berada dalam situasi yang menuntut perhatian<br />
segera, misalnya telepon kita berdering. Biasanya hal-hal urgen<br />
mendesak kita berbuat, sering menyenangkan, tetapi kerap tidak<br />
penting. Di sisi lain, hal penting terkait dengan hasil-hasil. Sesuatu<br />
yang penting menyumbang ke arah misi kita, nilai-nilai kita,<br />
tujuan-tujuan yang kita prioritaskan. Kita bereaksi terhadap hal-hal<br />
urgen. Namun, hal-hal penting yang tak urgen lebih menuntut proaktivitas.<br />
Di sini Covey menyodorkan matriks manajemen waktu dengan empat<br />
kuadrannya. Isi kuadran I adalah hal-hal urgen dan penting, kuadran II<br />
hal-hal tidak urgen, tetapi penting, kuadran III hal-hal urgen dan<br />
tidak penting, dan kuadran IV hal-hal tidak urgen dan tidak penting.<br />
Dengan mengurusi hal-hal tidak urgen, tetapi penting, kuadran II<br />
adalah jantung manajemen personal yang efektif. Dalam First Things<br />
First, Covey (1995) menegaskan bahwa mengetahui dan melakukan apa yang<br />
penting, dan bukannya sekadar bereaksi atas apa yang urgen, merupakan<br />
hal mendasar untuk mendahulukan yang utama.</p>
<p>Dengan pembedaan antara urgen dan penting, kita bisa belajar memprioritaskan hal-hal penting yang tidak urgen agar bebas dari tirani urgensi.</p>
<p>Alfons Taryadi<br />
Pengamat Bahasa Indonesia </p>
<p>Kompas</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kesusastraan.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kesusastraan.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kesusastraan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kesusastraan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kesusastraan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kesusastraan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kesusastraan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kesusastraan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kesusastraan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kesusastraan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kesusastraan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kesusastraan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kesusastraan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kesusastraan.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kesusastraan.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kesusastraan.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=20&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/19/urgen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RUANG PUBLIK INDUSTRI SASTRA</title>
		<link>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/19/ruang-publik-industri-sastra/</link>
		<comments>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/19/ruang-publik-industri-sastra/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Oct 2007 05:54:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mingguanindonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/19/ruang-publik-industri-sastra/</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah perjuangan penulis gelandangan untuk dapat menjumpai ruang publik sastra di media cetak adalah usaha untuk merobohkan dominasi penguasa sastra yang telah terlilit oleh sebuah mekanisme Industri. Ruang publik sastra di media cetak seperti sebuah jalan tol publikasi karya sastrawan mapan. Semakin kesulitan membedakan mana yang menjadi korban dan mana yang mengorbankan. Sastrawan yang telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=19&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah perjuangan penulis gelandangan untuk dapat menjumpai ruang publik sastra di media cetak adalah usaha untuk merobohkan dominasi penguasa sastra yang telah terlilit oleh sebuah mekanisme Industri. Ruang publik sastra di media cetak seperti sebuah jalan tol publikasi karya sastrawan mapan. Semakin kesulitan membedakan mana yang menjadi korban dan mana yang mengorbankan. Sastrawan yang telah mapan merasa setiap muntahan penanya selalu ada daya tampungnya. Kualitas sastra telah menjadi industri yang saling melengkapi dan saling menunggangi dalam kepentingannya masing-masing. <span id="more-19"></span></p>
<p>Ada sebuah kabut yang bernama dunia industri dalam<br />
media cetak yang mengakibatkan penulis gelandangan<br />
seperti menjumpai tembok tinggi dalam usahanya<br />
menjumpai ruang publik sastra di media cetak. “Dunia<br />
Industri hanya mengenal fakta yang dapat di ukur.Buku<br />
yang dapat di jual,bukan bermutu atau tidak (Jalan<br />
Sastra,Arswendo A,Sindo).Hal ini memunculkan sebuah<br />
pandangan Redaktur media cetak bahwa memajang karya<br />
sastrawan yang sudah mapan yang telah memperoleh<br />
berbagai macam penghargaan, menghasilkan berbagai<br />
macam antologi,sering “nongol” di media cetak maupun<br />
media elektronik otomatis akan menaikkan oplah.<br />
Padahal belum tentu, menghiasi ruang sastra di media<br />
cetak oleh sastrwan mapan berbanding lurus dengan<br />
naiknya oplah.</p>
<p>Padahal jika ruang public sastra di media cetak lebih<br />
terbuka,maka akan lebih memastikan meningkatkan oplah<br />
media cetak tersebut. Sebab, jika terdapat interaksi<br />
ruang publik sastra di media cetak dengan masyarakat<br />
bukan hanya akan melahirkan kwantitas dan kwalitas<br />
karya sastra melainkan juga kwantitas dan kwalitas<br />
sastrawan.Persaingan akan menjadi lebih sehat dan<br />
dunia industri media cetak tidak merasa di rugikan<br />
karena ada perhitungan indutri yang menguntungkan.<br />
Publik menjadi sebuah bagian yang saling terkait,<br />
menjadi pembaca sastra,penikmat sastra dan penghasil<br />
karya sastra. Saling terkait antara ruang publik<br />
sastra dan masyarakat berarti berbanding lurus dengan<br />
meningkatnya oplah. </p>
<p>Selama ini ruang publik sastra di media cetak<br />
sepertinya asyik bermain dengan para sastrawan mapan<br />
yang di dukung kepercayaan besar dari Industri media<br />
cetak,tetapi tidak mampu mempertanggung jawabkan<br />
secara Industri. Sastra kemudian menjadi sebuah proyek<br />
menjaga wibawa sebuah media cetak,sehingga dengan<br />
memajang para sastrawan mapan berarti telah menaikkan<br />
kualitas intelektual media cetak tersebut. Alasan<br />
seperti ini menjadi sebuah tameng kegagalan dari media<br />
cetak, jika karya sastrawan mapan tidak bisa menaikkan<br />
oplah.”Kualitas tidak bisa di ukur dengan<br />
oplah”.Sebuah drama aksi dukung mendukung yang<br />
berakibat sastra terkungkung dan tergantung, dan<br />
Industri media cetak mengambil sastra menjadi sebuah<br />
patron kualitas.</p>
<p>Di sebuah rubrik sastra di media cetak pernah di bahas<br />
mengenai ruang publik sastra alternative,yaitu melalui<br />
internet. Tetapi sayangnya dalam pembahasan tersebut<br />
tidak menjelaskan bahwa media ruang publik sastra<br />
melalui internet seperti di<br />
puisi.net,fordisastra.com,kolom kita.com,sejuta puisi<br />
blog adalah sebuah exploitasi sastra. Setiap<br />
pengunjung website tersebut yang ingin mengirimkan<br />
karyanya tidak di sediakan alamat Email,sehingga harus<br />
menulis ulang karya mereka dalam keadaan tersambung<br />
dengan internet. Bisa di bayangkan berapa biayanya<br />
jika ingin mengirim cerpen dan puisi?inikah yang<br />
dinamakan media alternative ruang publik sastra?<br />
Sebuah alternative ruang publik yang mencekik<br />
gelandangan sastra yang rata-rata miskin.</p>
<p>Saya mengalami sebuah pengalaman mengenai kejamnya<br />
ruang publik sastra media cetak. Beberapa cerpen,esay<br />
dan puisi saya kirimkan di media cetak group Jawa Pos<br />
di bogor. Dengan langsung menemui redaktur sastranya.<br />
Setelah berminggu-minggu menunggu tanpa ada kabar<br />
berita,saya mencoba menanyakan karya yang telah saya<br />
kirimkan.Jawaban Redakturnya adalah”saya belum sempat<br />
membaca.”Dia menjelaskan redaksi biasanya mencomot<br />
karya yang telah muncul di harian Jawa pos yang jelas<br />
kualitas penulisnya dan tidak perlu mengeluarkan<br />
honorarium. Kekecewaan saya yang mendalam adalah bukan<br />
tidak di muat tetapi “saya belum sempat<br />
membaca.”Berarti jalan telah tertutup bagi penulis<br />
gelandangan hanya karena sebuah pertimbangan<br />
Industri(memimalkan biaya)dan menumbuhkan kesan sebuah<br />
media cetak berkualitas karena mampu memajang<br />
sastrawan yang telah mapan.Saya tidak tahu apakah<br />
setiap redaksi media cetak mempunyai kebijaksanaan<br />
semacam ini?</p>
<p>Dedikasi sastrawan mapan dan perjuangannya mengenalkan<br />
karya sastra kepada masyarakat patut kita<br />
hargai,tetapi karya sastra tidak di tentukan oleh hal<br />
tersebut. Banyak sekali karya sastra yang muncul di<br />
berbagai media cetak tidak sehebat nama pengarangnya.<br />
Sebab tidak mungkin, setiap sastrawan mapan mempunyai<br />
kualitas yang prima dalam menciptakan semua karyanya.</p>
<p>Ruang public sastra di media cetak sekarang ini adalah<br />
sebuah pertemuan yang saling menipu antara sastrawan<br />
dan industri media cetak. Sastra semakin terasing<br />
karena bukan millik masyarakat dan oplah secara<br />
otomatis mengikuti masyarakat bukan kehendak<br />
sastrawan. Sehingga terbukanya ruang publik sastra<br />
hanya untuk sastrawan mapan berbanding terbalik dengan<br />
peningkatan oplah. Tetapi ada sebuah usaha dengan<br />
mengelabuhi masyarakat seolah-seolah sastra seiring<br />
dengan irama industri. “Sastrawan berkilah<br />
keterasingan sastra adalah kurangnya apresiasi<br />
masyarakat terhadap sastra,sedangkan indutri media<br />
cetak berkilah dengan kualitas tidak ada hubungannya<br />
dengan oplah”.</p>
<p>Demak.2007</p>
<p>Moch Arif Makruf<br />
Penggiat di SAINS,Sajogyo Inside Bogor<br />
Anggota KMB(komunitas menulis Bogor)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kesusastraan.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kesusastraan.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kesusastraan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kesusastraan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kesusastraan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kesusastraan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/kesusastraan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/kesusastraan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/kesusastraan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/kesusastraan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kesusastraan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kesusastraan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kesusastraan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kesusastraan.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kesusastraan.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kesusastraan.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kesusastraan.wordpress.com&amp;blog=1816320&amp;post=19&amp;subd=kesusastraan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kesusastraan.wordpress.com/2007/10/19/ruang-publik-industri-sastra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/afecd4dcb6fafd066fa0e382a57a0b2d?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mingguanindonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
